<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ikads.net &#187; Jalan-Jalan</title>
	<atom:link href="http://www.ikads.net/category/jalan-jalan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ikads.net</link>
	<description>life as a journey</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Dec 2009 09:49:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Nongkrong Yuks&#8230;!!!</title>
		<link>http://www.ikads.net/jalan-jalan/nongkrong-yuks.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/jalan-jalan/nongkrong-yuks.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 13:32:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ikads.net/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Lumayan lama tidak posting. Gak punya mood, waktu tersita oleh Facebook, dan sedikit kesibukan membuat gairah dan hasrat menulis menjadi mandul. Tulisan ini sebagai tindak lanjut dan lahir dari hasil ejakulasi obrolan setelah nongkrong lesehan bareng bersama geng futsal BBC yang batal main Sabtu lalu. Dari obrolan ringan kangin kauh, kaja kelod, lahir ide tematik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lumayan lama tidak posting. Gak punya mood, waktu tersita oleh Facebook, dan sedikit kesibukan membuat gairah dan hasrat menulis menjadi mandul. Tulisan ini sebagai tindak lanjut dan lahir dari hasil ejakulasi obrolan setelah nongkrong lesehan bareng bersama geng futsal BBC yang batal main Sabtu lalu. Dari obrolan ringan k<em>angin kauh, kaja kelod</em>, lahir ide tematik posting. Nah, teman-teman sudah pada posting <a href="http://yanuar.kutakutik.or.id/personal/tempat-nongkrong-favorit-di-denpasar/comment-page-1/#comment-28182" target="_blank">disini</a>, <a href="http://anima.dudut.com/archives/denpasar-where-to-hang-out.html" target="_blank">disini</a>, <a href="http://pushandaka.com/2009/05/nongkrong-di-pantai-sanur.html" target="_blank">disini</a>, <a href="http://bowo.kutakutik.or.id/2009/tempat-nongkrong/" target="_blank">disini , </a><a href="http://kojaque.com/2009/05/19/tempat-nongkronk/" target="_blank">disini</a>, dan <a href="http://www.rumahtulisan.com/17/05/2009/daily-life/tempat-nongkrong-para-kalong.html" target="_blank">disini</a>. Wah, lumayan efektif buat merangsang gairah menulis.</p>
<p>Blog yang sebagian besar sempat ditinggal selingkuh oleh pemilknya bersama mikro blogging seperti Twitter, Plurk, atau social networking Facebook, kini hidup bergairah kembali dan mencapai klimaks dengan postingan bertopik tempat nongkrong seputar Denpasar.</p>
<p>OK, karena tema untuk saat ini disepakati tentang tempat nongkrong, saya coba bongkar rahasia (<em>wueh, serem benar</em>) dimana saya biasa nongkrong.</p>
<p><strong>1. Cafe Taji</strong><br />
Lokasi Jalan Hayam Wuruk, persis di depan kantor Harian Nusa Bali. Tau kan?  Menunya beragam, tapi banyakan cita rasa bule dan Jepang. Tapi ada beberapa menu Indonesia. Yang cukup murah adalah paket makan siang nasi goreng + es teh yang tidak lebih dari 15 ribu per orang. Yang bikin betah disana lama-lama apalagi kalo bukan Free WIFI. Bisa dipergunakan sepuasnya, tanpa ada batasan minimal belanja. Saya paling sering nongkrong di tempat ini bersama <a href="http://bali4u.wordpress.com" target="_blank">Balibuddy</a>.</p>
<p><strong>2. Dunkin Donuts Simpang 6</strong><br />
Lokasi simpang 6, Jalan Teuku Umar. Tempat lumayan adem plus koneksi internet gratis meski agak lambat. Tapi untuk nongkrong, lumayan adem. Di hari-hari tertentu kadang ada live music. Dulu sebelum punya koneksi internet sendiri, saya biasa main kesana. Untuk menghemat ongkos, biasanya cuma mesen paket yang paling murah. Kalo tidak salah harganya 10 ribuan plus PPN 10%. Kadang ketemuan sama klien juga disini.</p>
<p><strong>3. Dapur Alam</strong><br />
 Lokasi Jalan Patih Jelantik, daerah sentral parkir Kuta. Tempat ini biasa menjadi tempat makan siang dulu ketika kantor masih di Jalan Dewi Sri. Kalo tidak di Food Courtnya Tiara, biasa makan disini. Kadang sepulang kantor biasa nongkrong disini. Tempatnya lumayan teduh dikelilingin rimbun pohon-pohon besar. Harga makanan, lumayan masih bisa dijangkau kantong kempis seperti saya. Free WIFI, cuma kalo duduknya di bangunan paling ujung, kadang sinyal WIFI tidak nyampe.</p>
<p><strong>4. Warung Soto Ceker Terpal Kuning di Pasar Kreneng</strong><br />
Warung ini berada di sebelah timur Pasar Kreneng.  Bukanya malam-malam. Menu khasnya soto ceker dan soto sapi. Biasa makan tengah malam disini. Yang paling sering saya pesan nasi soto ceker + susu panas + telur setengah matang yang ditaburi merica. Hmmm, luamayan membangunkan mata yang sudah setengah mengantuk di tengah malam. Disini bukan nongkrong sih sebenarnya, karena sehabis makan langsung pulang. No WIFI.</p>
<p><strong>5. Forrest Club</strong><br />
Depannya TVRI Renon. Baru beberapa kali disana. Suasana cukup nyaman, cuma makanan dan cemilan masih terbatas. Selengkapnya bisa dibuka2 <a href="http://www.forrestclub.org" target="_blank">disini </a></p>
<p><strong>6. Warung Kopi Bali, Jalan By Pass Ngurah Rai Sanur</strong><br />
Kalo disini nongkrongnya biasa untuk meeting urusan <a href="http://www.situslowongankerja.com" target="_blank">kerjaan </a>dengan klien bule yang berada di daerah Sanur. Hmmmm, kalo gak dibayarin, jarang mau kesini. Lumayan nguras isi kantong&#8230;Hahahahaha </p>
<p>Selain tempat-tempat di atas, masih ada beberapa tempat dulu saya biasa nongkrong. Misal di sini dan disini. Berhubung ada beberapa kejadian yang kurang berkenan <em>(baca <a href="http://www.ikads.net/rupa-rupa/uncategorized/wifi-gratis-seharga-rp-minimal-25-ribu.html" target="_blank">ini</a>, <a href="http://www.rumahtulisan.com/28/08/2008/pikiran/inilah-zaman-tuyul-pakai-wifi.html" target="_blank">ini</a>, <a href="http://ianbali.wordpress.com/2008/09/07/nangkring-di-orange-bakery/" target="_blank">ini </a>dan <a href="http://bali4u.wordpress.com/2008/09/07/orange-bakery-malam-ini/" target="_blank">ini</a>)</em> di dua tempat tersebut, akhirnya saya tidak pernah main kesana lagi</p>
<p>Kalau untuk daerah luar Denpasar, khususnya bagi Anda yang suka <a href="http://www.wisatabali.net" target="_blank">wisata </a>kuliner di <a href="http://www.thebalidriver.com" target="_blank">Bali</a>, saya akan bahas khusus di lain waktu. </p>
<p>Let&#8217;s Nongkrong togehter. Ide kadang muncul jika nongkrong rame2&#8230;</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fjalan-jalan%2Fnongkrong-yuks.html&amp;linkname=Nongkrong%20Yuks%26%238230%3B%21%21%21"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/jalan-jalan/nongkrong-yuks.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati Keindahan Kaldera Batur, Obyek Wisata Alam yang Masih Perawan</title>
		<link>http://www.ikads.net/jalan-jalan/menikmati-keindahan-kaldera-batur-obyek-wisata-alam-yang-masih-perawan.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/jalan-jalan/menikmati-keindahan-kaldera-batur-obyek-wisata-alam-yang-masih-perawan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 06:16:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ikads.net/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[ 
Pernah dengan Batur Caldera? Saya yakin, kebanyakan dari Anda belum pernah mendengar apa itu Batur Caldera. Apaan sih??
Batur Caldera adalah sebuah lembah yang terbentuk oleh letusan Gunung Batur tua ribuan tahun yang lalu yang merupakan salah satu caldera terbesar dan terindah di dunia. Lokasi tepatnya di Kintamani, Kabupaten Bangli.Sesungguhnya, hanya dengan berkunjung ke Penelokan saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p style="text-align: center; "><a href="http://www.wisatabali.net/wp-content/uploads/2008/04/dscf0264.jpg"><img class="aligncenter" src="http://www.wisatabali.net/wp-content/uploads/2008/04/dscf0264-300x225.jpg" alt="batur, caldera, trekking" width="300" height="225" /></a><em>Pernah dengan Batur Caldera? Saya yakin, kebanyakan dari Anda belum pernah mendengar apa itu Batur Caldera. Apaan sih??</em></p>
<p style="text-align: justify; ">Batur Caldera adalah sebuah lembah yang terbentuk oleh letusan Gunung Batur tua ribuan tahun yang lalu yang merupakan salah satu caldera terbesar dan terindah di dunia. Lokasi tepatnya di Kintamani, Kabupaten Bangli.Sesungguhnya, hanya dengan berkunjung ke Penelokan saja sudah dapat menikmati keindahan caldera ini. Jika Anda sudah pernah ke Bali, tentu Anda tidak melewatkan momen untuk mengunjungi salah satu kawasan wisata terindah di Bali ini.</p>
<p style="text-align: justify; ">Namun, yang justru menjadi daya tarik tersendiri bagi saya adalah ketika saya melakukan hiking/trekking dari Penulisan melewati Desa Sukawana, Pinggan, Belandingan, Songan, Trunyan dan Abang.</p>
<p style="text-align: justify; "><a href="http://www.wisatabali.net/wp-content/uploads/2008/04/mt-batur-and-mt-abang-view.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.wisatabali.net/wp-content/uploads/2008/04/mt-batur-and-mt-abang-view-300x225.jpg" alt="mt-batur-and-mt-abang-view" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify; ">Pemandangan dari sini luar biasa indahnya. Apalagi anda bisa menikmatinya sambil menunggu matahari terbit. Ketika saya turun dari mobil untuk memulai hiking ini bersama beberapa kawan dan tamu saya dari Perancis, saya sudah mendapat suguhan 3 gunung (gunung Batur, G. Abang, dan G. Agung) yang berdiri gagah di sebeleh tenggara saya. Sepintas ketiga gunung ini nampak seperti satu kesatuan yang membuatnya kelihatan makin perkasa.</p>
<p style="text-align: justify; ">Gunung Agung dan Gunung Batur merupakan gunung berapi yang masih aktif. Letusan terakhir Gunung Batur terjadi pada tahun 1994 berlajut sampai tahun 1997. Namun letusan ini tidak begitu besar. Aktifitas gunung Batur masih terbilang sangat aktif, karena sampai saat ini di setiap kawah Gunung Batur ditemui lubang-lubang kecil yang mengeluarkan hawa yang sangat panas dan mengandung belerang. (Banyak wisatawan yang berkunjung ke Gunung Batur memanfaatkan panas alami ini untuk memasak telur atau pisang)</p>
<p style="text-align: justify; ">Perjalanan dilajutkan menuju Desa Pinggan. Dari sini kita mendapatkan pemandangan Des Songan dan Gunung Batur di sebelah selatan. Di sebelah utara kita bisa melihat samudra (Selat Lombok). Dari sini pemandangan tidak jauh berubah sampai melewati Desa Belandingan.</p>
<p style="text-align: justify; "><a href="http://www.wisatabali.net/wp-content/uploads/2008/04/dscf0283.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.wisatabali.net/wp-content/uploads/2008/04/dscf0283-300x225.jpg" alt="kaldera batur" width="300" height="225" /></a>Pemandangan yang paling indah akan kita jumpai ketika kita berada di atas Desa Songan dan Danau Batur tepatnya di Bubung Gede. Sungguh kombinasi pemandangan yang belum pernah saya temukan dimana pun. Di sebelah barat kita disuguhi pemadangan Danau Batur dan Gunung Batur, di sebelah selatan nampak Gunung Abang dan Gunung Agung, sedangkan di sebelah timur kita bisa melihat Selat Lombok dan Pulau Lombok. Jika beruntung (cuaca cerah), Anda akan disuguhi pemandangan Gunung Rinjani di Lombok. Sungguh saya tidak bisa menceritakan dengan kata-kata pemandangan ini.</p>
<p style="text-align: justify; ">Setelah puas saya menikmati pemandangan dari sini, saya melajutkan perjalanan melewatu puncak Batur Caldera sebelah timur menuju Gunung Abang. Dari pinggang Gunung Abang Anda bisa melajutkan mendaki Gunung Abang atau turun ke Trunyan. Pemandangan dari puncak Gunung Abang tentu semakin indah karena tempatnya makin tinggi.</p>
<p style="text-align: justify; "><a href="http://www.wisatabali.net/wp-content/uploads/2008/04/dscn3309.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.wisatabali.net/wp-content/uploads/2008/04/dscn3309-300x224.jpg" alt="batur from trunyan" width="300" height="224" /></a>Namun, jika Anda sudah merasa cukup sampai disini, Anda bisa langsung turun ke Trunyan. Di Trunyan Anda akan disambut oleh masyarakat disana yang menawarkan perhau motor untuk meneyeberang ke Toyabungkah atau Kedisan plus mengunjungi kuburan Desa Trunyan.</p>
<p style="text-align: justify; ">Desa Trunyan merupakan salah satu desa tua di Bali (Bali Aga). Disini terdapat tradisi yang sangat unik, dimana mayat yang biasanya dikubur atau dibakar di daerah lainnya di Bali, disini hanya ditidurkan dan ditutupi dengan ancak saji (pagar dari bambu yang dibentuk sedemikian rupa). Namun ajaibnya, meski mayat tidak dikubur, namun sama sekali tidak mengeliarkan bau busuk layaknya bau mayat. Konon, menurut kepercayaan masyarakat, bau mayat ini dinetralisir oleh pohon taru menyan yang tumbuh besar di samping kuburan Desa Trunyan.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fjalan-jalan%2Fmenikmati-keindahan-kaldera-batur-obyek-wisata-alam-yang-masih-perawan.html&amp;linkname=Menikmati%20Keindahan%20Kaldera%20Batur%2C%20Obyek%20Wisata%20Alam%20yang%20Masih%20Perawan"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/jalan-jalan/menikmati-keindahan-kaldera-batur-obyek-wisata-alam-yang-masih-perawan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Chandi Restaurant, From Word of Mouth to Words on Paper</title>
		<link>http://www.ikads.net/jalan-jalan/kuliner/chandi-restaurant-from-word-of-mouth-to-words-on-paper.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/jalan-jalan/kuliner/chandi-restaurant-from-word-of-mouth-to-words-on-paper.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 18:27:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ikads.net/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[A few Chandi restaurant regulars met with Chandi’s chef extraordinaire, Agung, to run this interview. It was his first interview in Bali (Agung had refused all interviews/listing offers until he believed his restaurant to be officially opened), so here we go&#8230;
 After such a successful run with some of New York City’s most awarded and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="size-full wp-image-211 alignleft" title="chandi" src="http://www.ikads.net/wp-content/uploads/2009/02/chandi.jpg" alt="chandi" width="260" height="198" />A few Chandi restaurant regulars met with Chandi’s chef extraordinaire, Agung, to run this interview. It was his first interview in Bali (Agung had refused all interviews/listing offers until he believed his restaurant to be officially opened), so here we go&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> After such a successful run with some of New York City’s most awarded and talked about restaurants, namely Nobu, Spice Market, Perry Street and Budhakan – why Bali??</strong><br />
Initially, I needed to re-experience first hand the foods, scents, and textures of Indonesia, before I could bring it my own twist. So, my wife and I flew from NYC to Jakarta, and made our way through Java, from warung to restaurant, from market to farmer, and then, we finally headed to Bali for a well deserved rest in Canggu, where we had the joy of falling pregnant, with who is now the full thrill of our lives: Nelson!! So we began considering Bali&#8230; for all its great attributes!!</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> Why did you choose Seminyak as a Location?</strong><br />
We fell in love with a space that had a great flow, lots of natural light, and a great kitchen layout!! and luckily it all fell into place rather fast!!<br />
We created a partnership with the owner of the past restaurant, and were given green-light to re-conceptualize it into Chandi. My wife headed to Ubud in search of great carvers to partner on a design of what has become our main visual draw: an 8-meter hand-carved and backlit wall with an intricate eccentric motif, NYC meets Java and Bali. The space is wide and opens onto the street on side and a back garden on the other, and we are currently developing the rooftop. We have already had fun with large Wedding dinners, and Birthday Bashes and all kinds of special events. The clientele in Seminyak is a great mix of Glamour meets Health Nut!! And ultimately that is what Chandi’s Menu caters to. Chandi’s Kitchen now runs from Lunch to Dinner, Noon to Midnight, with the Bar open till 1:30am when busy. We are also developing a Chandi product line named “Javanaise” mostly involving Organic Spices, scents and accessories, that will all be available by Christmas 2008 in our Chandi boutique.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> Tell us about about Chandi’s extensive menu and daily Specials?</strong><br />
Chandi’s menu presents a Gastronomic Twist on Indonesian Cuisine using Organic Spices and Greens, mostly sourced through Big Tree Farms of Ubud. The fish and shellfish are‘catch of the day’ of course and all red meats are from Australia and New Zealand. Tempe and Tofu are central to Indonesian Cuisine and offer endless possibilities, and outstanding health benefits, so they play their part, just as a three types of organically farmed rice, and wild nuts, grains and exotic fruits allow me to compose beautiful textures and plating. I have taken Indonesian classics such as, Sop Buntut (Oxtail), Beef Rendang, Sate, Banana leaves, and Tamarind, Pecel and&#8230; recomposed, with respect to traditional elements but freely altering the cooking process and plating. The Oxtail, and the Lamb Shank, the Crab, for instance go through a long process to reach their final “fall of the bone” quality. I am in constant development mode mostly with spices, and being Indonesian, I may have a bit of an advantage in sourcing great produce. Suppliers keep surprising me with better and better produce, while my Kitchen staff is growing into a truly amazing team, that I really hope will be able to come train our future New York city Kitchen Team!! Customers keep coming back and the word of mouth has truly been our launching vessel. It has all been a blessing!</p>
<p style="text-align: justify;">Jl. Laksmana no 72<br />
Seminyak, Bali, 8036<br />
+62 0361 731060<br />
<a href="mailto:info@chandibali.com">info@chandibali.com</a></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fjalan-jalan%2Fkuliner%2Fchandi-restaurant-from-word-of-mouth-to-words-on-paper.html&amp;linkname=Chandi%20Restaurant%2C%20From%20Word%20of%20Mouth%20to%20Words%20on%20Paper"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/jalan-jalan/kuliner/chandi-restaurant-from-word-of-mouth-to-words-on-paper.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menerobos Lebatnya Hutan Bali Barat</title>
		<link>http://www.ikads.net/jalan-jalan/menerobos-lebatnya-hutan-bali-barat.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/jalan-jalan/menerobos-lebatnya-hutan-bali-barat.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Aug 2008 21:20:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya ini pengalaman yang sudah agak lama. Namun sayang untuk dilupakan, akhirnya kutuliskan juga disini. Berhubung juga lama tidak update blog&#8230;
Ini adalah perjalanan (jalan kaki maksudnya) tersulit dan terpanjang yang pernah saya lalui selama hidup. Dan mungkin tidak akan pernah bisa melakukannya lagi. Dengan 2 orang tamu dari Prancis dan satu lagi dari Thailand, kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebenarnya ini pengalaman yang sudah agak lama. Namun sayang untuk dilupakan, akhirnya kutuliskan juga disini. Berhubung juga lama tidak update blog&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah perjalanan (jalan kaki maksudnya) tersulit dan terpanjang yang pernah saya lalui selama hidup. Dan mungkin tidak akan pernah bisa melakukannya lagi. Dengan 2 orang tamu dari Prancis dan satu lagi dari Thailand, kami menerobos lebatnya hutan Bali Barat. Tujuannya selain tamu saya melakukan penelitian juga sebagai hobby mereka yang suka trekking dan petualangan alam lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">[SinglePic not found]</p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan dimulai dari Desa Pupuan, merupakan ujung timur dari hutan Taman Nasional Bali Barat. Kami memulai perjalanan sekitar jam 6 pagi, perkiraan selesai jam 6 sore. Malam sebelumnya kami menginap di Desa Pupuan dengan menyewa penginapan di rumah warga. Berhubung warga disana sangat ramah dan bersahabat, mencari penginapan bukan menjadi hal yang sulit, meski akhirnya harus membayar Rp. 50.000 untuk 2 kamar semalam.  Kami juga mencari pemandu penduduk lokal disana. Yang ini yang agak mahal. Kami menyewa 2 orang pemandu dan masing-masing minta ongkos memandu kami seharian di tengah hutan sebanyak Rp. 250.000 plus kami membelikan satu buah HP untuk keperluan di tengah hutan. Meski masing-masing sudah membawa HT dan 2 buah GPS, kadang HP masih diperlukan untuk hal-hal yang agak darurat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum benar-benar memasuki hutan Taman Nasional Bali Barat, harus melewati perkebunan kopi dan cokelat warga Pupuan dan sekitarnya. Setelah sekitar 1 jam melewati perkebunan warga, barulah sedikit-demi sedikit memasuki kerimbunan hutan. Di pinggiran timur hutan, sedikit-sedikit terlihat pemalakan liar yang dilakukan oleh warga. Belum terlalu parah, karena warga masih menebang pohon tidak pada satu tempat, tapi berpindah-pindah dengan jarak tebang yang lumayan jauh.</p>
<p style="text-align: justify;">[Gallery not found]
<p style="text-align: justify;">Akhirnya kami benar-benar memasuki sebuah kawasan hutan lebat yang tidak terjamah oleh tangan-tangan manusia. Di sekeliling kami hanya pohon-pohon yang sudah brewokan dengan diameter sekitar 1 meter. Bahkan untuk melewatinya, sesekali kami terpaksa merabas semak dan pepohonan kecil yang menghalangi perjalanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar perjalanan 3 jam melewati hutan kami menemukan sebuah pura, tempatnya cukup terpencil, tapi menurut pemandu kami, setiap tahun masyarakat disana pasti melakukan piodalan di pura itu. Jadi meski tempatnya terpencil, tapi masih sangat rapi dan terawat.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa pohon sangat unik. Diantaranya ada satu pohon ketika ditebas kulitnya, bukannya getah yang keluar, tapi lebih mirip darah, warnanya merah kental, benar-benar seperti darah. Ada lagi pohon yang getahnya bisa diminum, menurut pemandu kamuketika masyarakat sekitar tidak membawa perbekalan yang cukup ketika masuk hutan untuk berburu atau keperluan lainnya seringkali memanfaatkan getah kayu itu untuk diminum.</p>
<p style="text-align: justify;">Keunikan lainnya, di dalam hutan tidak boleh berkata bahwa saya lapar atau saya kenyang, karena keadaan bisa berbalik 180 derajat. Misalnya kita mengatakan bahwa kita kenyang, seketika perut kita akan menjadi keroncongan. Entah ini benar atau tidak, saya cuma mengikuti saja. Takut hal ini benar-benar terjadi. Kalau sampai terjadi bisa-bisa bekal berkurang.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain pepohonan yang menjadi daya tarik, hewan-hewan di dalam hutan juga menjadi daya tarik yang luar biasa. Sebagian besar hewan-hewan yang kami lihat di perjalanan sudah jarang kami temukan, salah satunya jalak Bali itu. Sayangnya untuk mengabadikan foto hewan-hewan itu suatu usaha yang sulit. Jangankan untuk didekati, baru dilihat saja mereka sudah kabur entah kemana.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berada di dalam hutan yang cukup lebat sekitar 5-6 jam. Setelah perjalanan 8 jam, akhirnya kami keluar dari hutan lebat. Sekarang kami berada di hutan semak belukar yang tampaknya sudah familiar bagi masyarakat. Di antara hutan-hutan semak, kadang terdapat ladang masyarakat yang ditanami jagung atau pisang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sudah memasuki hutan bagian selatan, sudah mendekati akhir perjalanan, pembalakan liar sudah muali ramai. Suara kapak bersahutan dengan suara mesin pemotong kayu. Nampaknya masyarakat bagian selatan (sudah masuk kabupaten Negara menurut perkiraan saya) lebih &#8217;semangat&#8217; mencari kayu untuk keperluan bangunan atau untuk dijual.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum akhirnya kami kembali menemukan pemukiman penduduk, kami masih harus melewati hamparan kebun pisang, yang harus dilewati sekitar satu jam perjalanan. Meski sudah sangat melelahkan setelah berjalan kurang lebih 10 jam, tapi semangat kembali bangkit ketika sudah benar-benar keluar dari hutan. Sebelumnya ketakutan kami adalah kemalaman di dalam hutan atau tersesat.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal yang menjadi perhatian lainnya, ternyata meski dekat dengan hutan, masyarakat di ujung selatan hutan ini mengalami kesulitan air. Mereka harus mencari air ke tengah hutan dengan cara memasang pipa-pipa kecil. Mereka melakukannya secara swadaya. Entah ada bantuan pemerintah, tapi menurut mereka semuanya dilakukan secara swadaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya setalah sekitar 11 jam perjalanan sampai kami sampai di mobil yang menunggu kami, di daerah sekitar Pantai Medewi masuk ke utara.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fjalan-jalan%2Fmenerobos-lebatnya-hutan-bali-barat.html&amp;linkname=Menerobos%20Lebatnya%20Hutan%20Bali%20Barat"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/jalan-jalan/menerobos-lebatnya-hutan-bali-barat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Goa Gajah, Sebuah Peninggalan Purbakala</title>
		<link>http://www.ikads.net/jalan-jalan/goa-gajah-sebuah-peninggalan-purbakala.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/jalan-jalan/goa-gajah-sebuah-peninggalan-purbakala.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 16:09:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Identifikasi dan Daya Tarik
Goa Gajah baru ditemukan kembali pada tahun 1923. Walaupun Lwa Gajah dan Bedahulu, yang sekarang menjadi Goa Gajah dan Bedahulu, telah disebutkan di dalam kitab Nagarakertagama ditulis pada tahun 1365 M. Pada tahun 1954, ditemukan kembali kolam petirtaan di depan Goa yang kemudian disusul dengan pemugaran dan pemasangan kembali area-area pancuran yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Identifikasi dan Daya Tarik<br />
Goa Gajah baru ditemukan kembali pada tahun 1923. Walaupun Lwa Gajah dan Bedahulu, yang sekarang menjadi Goa Gajah dan Bedahulu, telah disebutkan di dalam kitab Nagarakertagama ditulis pada tahun 1365 M. Pada tahun 1954, ditemukan kembali kolam petirtaan di depan Goa yang kemudian disusul dengan pemugaran dan pemasangan kembali area-area pancuran yang semula terletak di depan Goa dalam keadaan tidak lengkap. Kekunoan Pura Goa Gajah dapat dibagi menjadi dua bagian.<br />
Lokasi<br />
Pura Goa Gajah yang dikalangan penduduk setempat lebih dikenal dengan nama Pura Goa, terletak disebelah barat desa Bedahulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar, kira-kira 27 Km dari Denpasar. Suatu kunjungan ke Pura ini dapat dilakukan dengan mudah, karena letaknya hanya beberapa meter di bawah jalan raya menuju desa Tampaksiring. Sesungguhnya Pura ini dibangun di embah sungai Petanu, dengan panorama alam yang indah, disela-sela pohon-pohon nyiur dan sebuah sungai kecil bercampur dengan Sungai Petanu dibawahnya.</p>
<p>Fasilitas<br />
Pura Goa Gajah sebagai peninggalan sejarah dan purbakala yang penting, kecuali berada di tepi jalan raya yang baik, juga mempunyai fasilitas-fasilitas pendukung yang memadai. Di sebelah barat pura terdapat Restaurant Petanu (Petanu, Food and Beverage) dan dari sini pengunjung dapat menyaksikan alam disebelah utaranya dengan air terjun, walaupun tidak terlalu besar. Tidak jauh dari restaurant ini, ke arah barat terdapat beberapa buah toko-toko souvenir yang baik. Di tepi jalan raya (di atas Pura Goa Gajah), telah dibangun sebuah Warung Telekomunikasi untuk komunikasi yang diperlukan. Di tempat parkir, terdapat juga warung-warung minuman dan souvenir serta toilet untuk umum, sedangkan di sebelah selatan Pura (di samping ceruk pertapaan) telah dibangun sebuah balai istirahat untuk berteduh, dengan toilet, sebuah kolam kecil dan sebuah taman kecil. Disamping itu, kini sedang dibangun sebuah wantilan, di ujung tangga turun ke halaman pura, untuk keperluan masyarakat dan pengunjung. Agak ke barat dari Wantilan ini, di balik pohon-pohon yang rindang terdapat sebuah toilet. Di sebelah selatan tempat parkir, terdapat dua buah restaurant.</p>
<p>Kunjungan<br />
Sementara menikmati hidangan di restaurant ini, pengunjung dapat memandang ke selatan atau ke bawah (ke sebelah timur Pura), menikmati alam yang indah disertai desiran angin yang menyegarkan. Dewasa ini, Pura Goa Gajah semakin banyak dikunjungi oleh para wisatawan, baik dari nusantara maupun mancanegara.</p>
<p>Deskripsi<br />
Bagian utara terdiri dari sebuah Goa Alam yang dipahat berbentuk huruf &#8220;T&#8221;. Di dalam Goa ini terdapat sebuah arca Ganesa, yang dianggap sebagai Dewa Ilmu Pengetahuan, fragmen-fragmen arca dan sebuah trilangga yang dikelilingi oleh delapan buah lingga kecil-kecil. Pada bagian dinding Goa, terdapat ceruk-ceruk pertapaan dan bagian muka Goa, kecuali dihiasi dengan pahatan yang menggambarkan sebuah hutan belantara dengan isinya, juga dilengkapi dengan sebuah kepala kala memakai subang.</p>
<p>Di dinding Goa terdapat juga prasasti singkat yang berbunyi &#8220;Kumon&#8221; dan &#8220;sahywangsa&#8221;, yang menurut tipe hurufnya diduga berasal dari abad 11 M. Di sebelah barat Goa, di dalam sebuah bangunan terdapat sebuah arca jongkok, Ganesa dan arca Men Brayut yang di dalam mitologi agama Budha dikenal sebagai Hariti, penyelamat anak-anak.</p>
<p>Di depan Goa, kecuali arca penjaga, terdapat juga fragmen-fragmen bangunan yang tidak diketahui asal usulnya, seperti fragmen-fragmen bangunan yang sekarang tidak dikumpulkan di halaman pura di sebelah barat kolam petirtaan. Arca-arca pancuran yang sekarang telah berfungsi kembali di dalam kolam petirtaan yang dibagi menjadi tiga bagian, menurut gayanya diduga berasal dari abad 11 M. Sayang sekali arca pancuran yang terletak di kolam paling tengah, belum ditemukan hingga sekarang. Di sebelah kanan Goa, memang terdapat sebuah arca Pancuran Ganesa, tetapi ternyata tidak cocok dengan kolam yang paling tengah tadi.</p>
<p>Adapun bagian yang kedua dari Pura Goa Gajah ialah bagian sebelah Tenggara. Di sini terdapat dua buah arca Budha, yang sebuah tanpa kepala dan sebuah lagi masih cukup baik dengan gaya Jawa Tengah. Di sebelah utara arca ini, masih kelihatan melekat di tebing yaitu bagian kaki dari candi tebing yang bagian atasnya telah lama jatuh ke dalam sungai kecil. Di dalam sungai kecil ini terdapat relief stupa bercabang tiga, reruntuhan candi tebing dengan pahatan-pahatan yang indah. Di sebelah barat sungai kecil ini terdapat sebuah ceruk pertapaan.</p>
<p>Berdasarkan temuan kepurbakalaan tersebut di atas, dapat diketahui, bahwa Pura Goa Gajah berasal dari abad 9 dan 11 M. Yang dahulu kala berfungsi sebagai tempat pertapaan Bhiksu Buddha dan Pendeta Siwa. Kekunoan ini juga menunjukkan penyatuan ajaran agama Buddha dan Siwa berlangsung dengan baik.</p>
<p>Di seberang jalan raya di atas Pura Goa Gajah terdapat sebuah pura yang disebut pura Jempinis yang dalam ritual keagamaan masih mempunyai hubungan erat sekali denga Pura Goa Gajah. Di sini juga terdapat beberapa arca kuno dan fragmen &#8211; fragmen bangunan.</p>
<p>Diambil dari:</p>
<p>http://www.geocities.com/goesdun/wisata/wisata/goagajah.html</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fjalan-jalan%2Fgoa-gajah-sebuah-peninggalan-purbakala.html&amp;linkname=Goa%20Gajah%2C%20Sebuah%20Peninggalan%20Purbakala"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/jalan-jalan/goa-gajah-sebuah-peninggalan-purbakala.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Desa Adat Pengelipuran, Mempertahankan Tradisi ditengah Ambisi Globalisasi</title>
		<link>http://www.ikads.net/bali/adat/desa-adat-pengelipuran-mempertahankan-tradisi-ditengah-ambisi-globalisasi.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/bali/adat/desa-adat-pengelipuran-mempertahankan-tradisi-ditengah-ambisi-globalisasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 03:50:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[desa tradisional Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Pengelipuran]]></category>
		<category><![CDATA[traditional village]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/jalan-jalan/desa-adat-pengelipuran-mempertahankan-tradisi-ditengah-ambisi-globalisasi.html</guid>
		<description><![CDATA[Pengelipuran hanyalah sebuah desa kecil di pinggiran kota sejuk, Bangli, Bali sekitar 40 km dari kota Denpasar. Secara dinas Desa Pekraman Pengelipuran termasuk Kelurahan Kubu. Dihuni sekitar 200 kepala keluarga yang menempati sekitar 76 rumah keluarga atau satu rumah ditinggali sekitar 3 kepala keluarga. Kebanyakan dari mereka adalah petani. Meski sekarang sudah mulai ada yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengelipuran hanyalah sebuah desa kecil di pinggiran kota sejuk, Bangli, Bali sekitar 40 km dari kota Denpasar. Secara dinas Desa Pekraman Pengelipuran termasuk Kelurahan Kubu. Dihuni sekitar 200 kepala keluarga yang menempati sekitar 76 rumah keluarga atau satu rumah ditinggali sekitar 3 kepala keluarga. Kebanyakan dari mereka adalah petani. Meski sekarang sudah mulai ada yang menjadi pegawai negeri atau bekerja di sector pariwisata lainnya.</p>
<p>Pengelipuran adalah salah satu desa tradisional atau desa tua di Bali atau sering disebut Bali Aga atau Bali Mula. Merupakan salah satu tujuan wisata yang dipromosikan oleh Pemkab Bangli.</p>
<p>Tapi di desa kecil ini tradisi begitu kukuh dipegang oleh masyarakatnya. Terutama yang berkaitan dengan penataan pekarangan rumah. Di tengah gempuran arus modernisasi, keteguhan masyarakat Pengelipuran tampak dari rapinya penataan kawasan hunian masyarakat setempat. Memasuki desa pengelipuran laksana memasuki sebuah taman yang dibentuk dengan arsitektur maha sempurna. Jejeran rumah di sepanjang jalan berdiri rapi dengan pintu gerbang yang hampir seragam di setiap rumah. Rumah-rumah ini dibelah oleh sebuah jalan besar yang dipaping di bagian tengah dan ditamani rerumputan di pinggir kiri kanannya.</p>
<p><span id="more-81"></span></p>
<p>Penataan rumah dan pekarangan sangat ketat dan mengikuti ketentuan Asta Kosala-Kosali, Asta Bumi, Sikut Karang dan berbagai aturan yang tertulis maupun yang tidak tertulis lainnya. Karenanya, setiap pekarangan dan rumah di Desa Pengelipuran selalu mempunyai pola atau tatanan yang sama. Posisi paling barat ditempati oleh sebuah joli yaitu tempat tinggal utama. Dimana sebagian besar penghuni rumah tinggal disini. Juga dimanfaatkan untuk menerima tamu.</p>
<p>Masuk lebih dalam lagi akan dijumpai pewaregan atau dapur di bagian utara dan bale saka nem di sebelah selatan. Dapur memang berfungsi sebagai dapur dan tempat tinggal orang tua, dan kadang dipakai sebagai atempat mekemit (menyucikan diri, tapa brata) ketika seseoarng dari keluarga yang tinggal di pekarangan itu melakukan suatu ritual adat keagamaan. Sedangkan bale saka nem lebih banyak berfungsi untuk kegiatan manusa yadnya, yaitu ritual yang berkaitan dengan upacara terhadap manusia, seperti metatah dan tempat jenazah ketika salah seorang penghuni pekarangan itu meniggal dunia.</p>
<p>Lebih kedalam lagi dijumpai lesung di sebelah utara, berdampingan dengan lumbung di sebalah selatan. Lesung di sini ternyata diberi tempat khusus dan diberi atap. Fungsinya selain sebagai sarana untuk menumbuk padi, jagung atau bahan makanan lainnya, di sekitar lesung juga dimanfaatkan untuk mebat atau metanding ketika akan melaksanakan suatu kegiatan/ritual keagamaan. Diseberangnya berdiri lumbung yang dipakai sebagai tempat menyimpan hasil pertanian terutama gabah.</p>
<p>Paling ujunng atau paling timur adalah bangunan sanggah yang hamper berdampingan dengan kamar mandi. Mungkin kamar mandi merupakan hasil akulturi dari budaya modern. Karena sebelumnya masyarakat Pengelipuran lebih banyak memanfaatkan aliran sungai untuk kebutuhan MCK-nya.</p>
<p>Tradisi-tradisi lainnya pada umumnya sama dengan tradisi desa adat lainnya di Bali. Mulai dari perangkat desa adat dan system pemerintahan desa adat semua hampir sama dengan system pemerintahan desa adat pada umumnya. Jika di Tenganan konon wanita Desa Tenganan tidak diijinkan kawin keluar desa Tenganan, di Pengelipuran tradisi ini tidak ada.</p>
<p>Semangat masyarakat disana bukan cuma nampak dari cara mereka menata pekarangannya. Mereka juga sangat aktif mempertahankan tradisi-tradisi lainnya seperti seni tabuh. Semangat ini tampak ketika saya menyaksikan sendiri anak-anak Pengelipuran yang masih berumur 5 tahunan sampai berumur belasan tahun berlatih menabuh gamelan di bale banjar setempat. Beberapa saat saya terkagum-kagum melihat jari-jari anak-anak itu begitu lincah memainkan panggul gangsa menari di atas gangsa menghasilkan tetabuhan Bali.</p>
<p>Kekaguman saya akan tradisi Pengelipuran dan anak-anak itu membuat saya mengcopy beberapa musik gamelan Bali yang kebetulan saya dapatkan ketika saya ngenet di sebuah warnet. Namun kekaguman itu bukannya tanpa ketakutan.  Jika tidak bijak menyikapinya, lambat laun Pengelipuran akan tinggal kenangan. Berharap Pemkab Bangli dan calon Gubernur Bali bisa membuka mata terhadap masalah seperti ini. Meski kelihatannya kecil, tapi taksu Bali berada di tempat-tempat seperti Pengelipuran ini. Jika taksu Pengelipuran dan taksu tempat-tempat lainnya hilang, hilanglah taksu Bali.</p>
<p>Globaslisai adalah pilihan. Dan warisan budaya adalah juga titipan. Seberapa bijakkah kita?<br />
Pengelipuran, 3 Mei 2008</p>
<p><a href="http://Go-Vnet.Com/?id=ksuarya" target="_blank"><img src="http://plazapulsa.com/banner/plazapulsa4.gif" alt="Bisnis Pulsa Paling Mudah PlazaPulsa.com" height="60" width="468" /></a></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fbali%2Fadat%2Fdesa-adat-pengelipuran-mempertahankan-tradisi-ditengah-ambisi-globalisasi.html&amp;linkname=Desa%20Adat%20Pengelipuran%2C%20Mempertahankan%20Tradisi%20ditengah%20Ambisi%20Globalisasi"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/bali/adat/desa-adat-pengelipuran-mempertahankan-tradisi-ditengah-ambisi-globalisasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warung Babi Guling Men Suka</title>
		<link>http://www.ikads.net/jalan-jalan/kuliner/warung-babi-guling-men-suka.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/jalan-jalan/kuliner/warung-babi-guling-men-suka.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Apr 2008 06:08:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/kuliner/warung-babi-guling-men-suka.html</guid>
		<description><![CDATA[Kalo tidak membawa bekal ke kantor biasanya saya makan siang di Tiara Food Court. Selain pilihan menunya banyak, harga yang murah juga menjadi pertimbangan.  Kalau lagi bosan makan di Tiara, biasanya nyari warung terdekat dari kantor, namanya Warung Babi Guling Men Suka. Menunya, ya tentu saja nasi plus babi guling. Tidak ada menu lainnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo tidak membawa bekal ke kantor biasanya saya makan siang di Tiara Food Court. Selain pilihan menunya banyak, harga yang murah juga menjadi pertimbangan.  Kalau lagi bosan makan di Tiara, biasanya nyari warung terdekat dari kantor, namanya Warung Babi Guling Men Suka. Menunya, ya tentu saja nasi plus babi guling. Tidak ada menu lainnya. Tempatnya tidak besar, karyawannya tidak banyak, belum pakai PDA untuk melayani order tamu. Toh, orang yang makan disana selalu banyak. Bahkan banyak pula wisatawan (mungkin Jepang atau Korea) atau turis lokal yang sedang <a href="http://www.wisatabali.net/tempat-wisata/bangli/kintamani-pesona-gunung-dan-danau-batur.htm" target="_blank">berwisata di Bali</a> yang makan disana.<br />
<span id="more-79"></span>Tapi sekarang saya tidak mau membanding-bandingkan antara Warung Nasi Be Guling Men Suka dengan McD atau jejeran restoran di sepanjang Jalan Laksmana, atau D&#8217;Cost dengan mutu bintang lima harga kaki limanya.<br />
Sekedar iseng, ternyata pengunjung blog saya tercinta ini ternyata kebanyakan datang dengan keyword yang mengandung &#8220;masakan tradisional Bali&#8221;. Di bawah ini adalah potongan screenshoot statistik keyword pengujung website ini hari ini.</p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p><img src="http://ikads.net/wp-content/uploads/2008/04/stat1.jpg" alt="stat.jpg" /></p>
<p><em>*ups ada juga keyword yang aneh masuk ke situ </em></p>
<p>Jadi terpikirkan juga pada satu kesimpulan, ternyata warung tradisional makin terjepit di tengah arus konsumerisme. Banyak sekali Men Suka yang lainnya yang masih bertahan dengan warung tradisional dengan menu tradisional Bali.  Padahal jika dilihat dari statistik keyword di atas, ternyata yang orang cari bukanlah McD atau KFC. Yang mereka cari makanan khas Bali, dengan cita rasa Bali, bukan makanan import.</p>
<p>Warung Men Suka mungkin salah satu warung tradisional yang agak rame. Tidak sedikit warung sejenis yang mulai kehilangan pembeli. Karena lahannya telah diserobot oleh restoran atau rumah makan yang lebih wah, atau mati pelan-pelan karena tidak mampu lagi membeli sekedar bumbu untuk keperluan racikan masakannya. Menyedihkan&#8230;</p>
<p>Saya tidak tahu, siapa yang seharusnya mempertahankan masakan  tradisional ini. Apa campur tangan pemerintah diperlukan untuk itu. Sayangnya pula, lidah kita sudah terlalu banyak dipengaruhi oleh citarasa makanan import. Apalagi anak-anak. Dijamin, ketika anak disuruh memilih ayam goreng KFC apa masakan babi guling  khas Bali, mereka akan memilih ayam goreng.</p>
<p>Semoga Men Suka tidak lekas menutup warung makan Babi Gulingnya&#8230;.</p>
<p><!--adsense#balikads2--></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fjalan-jalan%2Fkuliner%2Fwarung-babi-guling-men-suka.html&amp;linkname=Warung%20Babi%20Guling%20Men%20Suka"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/jalan-jalan/kuliner/warung-babi-guling-men-suka.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makan Malam &amp; Free Hotspot di d&#8217;Palensa Renon</title>
		<link>http://www.ikads.net/blogging-internet/blogging/makan-malam-free-hotspot-di-dpalensa-renon.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/blogging-internet/blogging/makan-malam-free-hotspot-di-dpalensa-renon.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 12:20:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari belakangan ini saya mengalami sedikit masalah koneksi internet. Sebelumnya saya menggunakan Starone paket 1 GB seharga 90 ribu per bulan. Berhubung saya terlalu internetaholic, jatah 1 GB ternyata tidak mencukupi. Saya bisa menghabiskan bandwith sampai 3 GB perbulan. Ujung-ujungnya tagihan Starone bisa mencapai 500 ribu sebulan.
Akhirnya saya mencoba beralih provider, dan mendaftar ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari belakangan ini saya mengalami sedikit masalah koneksi internet. Sebelumnya saya menggunakan Starone paket 1 GB seharga 90 ribu per bulan. Berhubung saya terlalu internetaholic, jatah 1 GB ternyata tidak mencukupi. Saya bisa menghabiskan bandwith sampai 3 GB perbulan. Ujung-ujungnya tagihan Starone bisa mencapai 500 ribu sebulan.</p>
<p>Akhirnya saya mencoba beralih provider, dan mendaftar ke <a href="http://www.balimedianet.com">Bali Media Net</a> dengan paket <a href="http://www.balimedianet.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=17&amp;Itemid=35">Easy</a>-nya seharga 490 ribu sebulan dengan unlimited bandwidth. Setelah dijajal selama 2 hari akhirnya saya memutuskan untuk tidak berlangganan. Kecepatan yang ditawarkan adalah 128 Kbps sharring 12.Ternyata lambat sekali. Saya disarankan untuk upgrade ke paket easy lainnya seharga 990 ribu sebulan. Kemahalan buat kantong saya <img src='http://www.ikads.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-74"></span></p>
<p>Dan sedihnya, ketika saya berhenti berlangganan StarOne dan batal berlangganan Bali Media Net, otomatis saya tidak mempunyai koneksi internet selama sekitar seminggu ini. Saya menggunakan StarOne jagoan (time based). Masih mahal juga. Tiap hari harus isi ulang pulsa jagoan 20 ribu. Dalam kondisi seperti ini saya otomatis bisa internetan cuma 3 jam.</p>
<p>Hari ini saya kebetulan ngantar doi ngeMC untuk sebuah acara ulang tahun. Maunya nunggu di tempat acara di Warung Ulam Segara Renon. Rencananya sambil nunggu doi nge-MC bisa saya manfaatin untuk nginternet (saya sudah bawa laptop + modem CDMA + kartu jagoan prabayar). Dasar lagi apes, semua meja sudah dipesan untuk keperluang acara ultah itu. Akhirnya saya meninggalkan Ulam Segara, mencari tempat yang saya rasa nyaman untuk makan dan nge-net. Akhirnya ketemu ketemu Warung d&#8217;Pensa, letaknya bersebelahan dengan Rumah Sakit Puri Bunda, sebelah selatan perempatan lapangan Renon.</p>
<p>Koneksi internet gratis di sini lumayan cepat. Dana makanannya juga lumayan (lumayan enak dan lumayan murah.)</p>
<p>Anda yang suka makan enak tanpa mau melewatkan kesempatan nge-net, tempat ini sayang kalau dilewatkan.</p>
<p>Sayang gak ada skrinsyutnya.<br />
++++++++++++++++</p>
<p>Ini Iklan Gak Usah Dibuka:<br />
<a href="http://www.wisatabali.net">WisataBali.Net</a>, penyedia jasa layanan wisata ke Bali. Liburan di Bali? jangan dulu sebelum mengunjungi <a href="http://www.wisatabali.net">WisataBali.Net</a></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fblogging-internet%2Fblogging%2Fmakan-malam-free-hotspot-di-dpalensa-renon.html&amp;linkname=Makan%20Malam%20%26%23038%3B%20Free%20Hotspot%20di%20d%26%238217%3BPalensa%20Renon"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/blogging-internet/blogging/makan-malam-free-hotspot-di-dpalensa-renon.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendaki Gunung Agung, Antara Tantangan &amp; Kepuasan Bhatin</title>
		<link>http://www.ikads.net/jalan-jalan/mendaki-gunung-agung-antara-tantangan-kepuasan-bhatin.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/jalan-jalan/mendaki-gunung-agung-antara-tantangan-kepuasan-bhatin.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 11:56:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Akhir tahun 2007 kemarin, 3 orang mahasiswa pecinta alam hilang di Gunung Agung, Karangasem Bali.  Ketiga mahasiswa Mapala itu adalah Muhammad Iqbal (21), Eko Saputro Sudirman (21), dan Yunita Indah Safitri (20).
Salah satu mahasiswa, Muhammad Iqbal ditemukan telah menjadi mayat  pada bagian jalur jalan setapak antara puncak satu meanuju puncak dua, di daerah ketinggian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://farm1.static.flickr.com/22/25422075_c79afd99e4.jpg?v=0" alt="Gunung Agung" align="left" height="241" width="322" />Akhir tahun 2007 kemarin, 3 orang mahasiswa pecinta alam hilang di Gunung Agung, Karangasem Bali.  Ketiga mahasiswa Mapala itu adalah Muhammad Iqbal (21), Eko Saputro Sudirman (21), dan Yunita Indah Safitri (20).</p>
<p>Salah satu mahasiswa, Muhammad Iqbal <span class="bodytext01">ditemukan telah menjadi mayat  pada bagian jalur jalan setapak antara puncak satu meanuju puncak dua, di daerah ketinggian sekitar 2.600 meter di atas permukaan laut. </span></p>
<p>Desas-desus yang saya dengar bahwa Yunita Indah Safitri sempat bertanya kepada salah <img src="http://farm1.static.flickr.com/151/367840692_0b1c968dd4.jpg?v=0" align="left" height="242" width="322" />seoarang petugas jaga loket di Pura Besakih, apakah wanita yang sedang datang bulan diperkenankan mendaki Gunung Agung, mengingat dia sedang dalam keadaan datang bulan. Namun, akhirnya toh tetap dia mendaki.</p>
<p>Terlepas dari, apakah desas-desus ini benar saya juga tidak tahu. Saya bukan seorang yang mengerti agama atau hal-hal metafisik lainnya. Namun, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan ketika akan mendaki Gunung Agung (saya bukan seorang pendaki profesional, tapi saya telah mendaki Gunung Agung puluhan kali, baik melalui Besakih atau Selat lewat Pura Pasar Agung).</p>
<ol>
<li>Mendaki Gunung Agung sebaiknya jangan dilakukan pada saat musim hujan. Saat musim hujan, cuaca di puncak Gunung Agung bisa berubah sewaktu-waktu. Suhu bisa mencapai kurang dari 10 derajat Celcius. Jalan juga menjadi sangat licin.</li>
<li>Bawalah bekal yang cukup. Perjalanan mencapai puncak Gunung Agung bisa mencapai 7-10 jam dari Pura Besakih dan 4-5 jam dari Pura Pasar Agung. Jika Anda kesulitan membawa bekal yang banyak, sewalah porter yang khusus membawa bekal Anda. Total waktu yang Anda butuhkan naik-turun Gunung Agung adalah 15 sampai 20 jam.</li>
<li>Bawalah pakaian yang cukup tebal. Jika cuaca dingin akan sangat membantu. Jika pakaian Anda tidak mampu melindungi Anda dari kedinginan, hal yang paling baik Anda lakukan, carilah lembah atau tebing. Berlindunglah disana.</li>
<li>Akan lebih baik Anda jika memulai pendakian pada malam hari. Saya biasanya memulai pendakian pada jam 11  malam dari Pura Besakih, dan jam 2 dari Pura Pasar Agung. Tujuannya adalah, ketika Anda masih cukup kuat pada saat mulai mendaki, dan pada saat turun sudah siang ketika Anda sudah lelah.</li>
<li>Jika perlu bawalah tenda (jika Anda mendaki dari Besakih). Saya biasanya mendirikan tenda pada perjalanan telah mencapai sekitar 4 jam dari Pura Besakih. Setelah Anda melewati hutan, Anda akan menemukan tempat yang cukup nyaman untuk mendirikan tenda.</li>
<li>Gunakan sepatu trekking yang ringan dan bisa diandalkan ketika Anda melewati jalan licin.</li>
<li>Jika dipandang perlu, carilah guide. Guide-guide di Besakih biasanya sudah berpengalaman mendaki Gunung Agung.</li>
<li>Gunung Agung adalah gunung yang disucikan oleh masyarakat Hindu di Bali. Respeklah. Jika Anda dilarang, maka turutilah. Kepercayaan masyarakat Bali sangat kuat, Anda resepek masyarakat dan alam juga akan respek kepada Anda.</li>
</ol>
<p>Sebaiknya Anda tidak mendaki jika:</p>
<ol>
<li>Jika hujan</li>
<li>Jika anda sedang datang bulan</li>
<li>Jika sedang ada odalan atau upacara di Pura Besakih.</li>
</ol>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fjalan-jalan%2Fmendaki-gunung-agung-antara-tantangan-kepuasan-bhatin.html&amp;linkname=Mendaki%20Gunung%20Agung%2C%20Antara%20Tantangan%20%26%23038%3B%20Kepuasan%20Bhatin"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/jalan-jalan/mendaki-gunung-agung-antara-tantangan-kepuasan-bhatin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Live Jazz &#8211; Every Tuesday &amp; Friday at Med International Restaurant Seminyak</title>
		<link>http://www.ikads.net/jalan-jalan/live-jazz-every-tuesday-friday-at-med-international-restaurant-seminyak.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/jalan-jalan/live-jazz-every-tuesday-friday-at-med-international-restaurant-seminyak.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 07:37:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Kemana Anda melewatkan liburan akhir tahun ini? Jika Anda berlibur ke Bali dan menyukai suasana  baru menikmati liburan dan Anda yang menyukai Musik Jazz, ada baiknya Anda berkunjung ke Med Restaurant yang berlokasi di Jalan Laksamana No. 72 Seminyak.
Selain menyediakan aneka masakan International, dengan chef berpengalama, Med memang memanjakan pengunjung dengan memanpilkan musik Jazz [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemana Anda melewatkan liburan akhir tahun ini? Jika Anda berlibur ke Bali dan menyukai suasana  baru menikmati liburan dan Anda yang menyukai Musik Jazz, ada baiknya Anda berkunjung ke Med Restaurant yang berlokasi di Jalan Laksamana No. 72 Seminyak.</p>
<p>Selain menyediakan aneka masakan International, dengan chef berpengalama, Med memang memanjakan pengunjung dengan memanpilkan musik Jazz setiap hari Selasa dan Hari Jumat.</p>
<p>Med adalah sebuah resotoran yang mengusung konsep Casual Dining International Cuisine. Berlokasi di daerah Seminyak yang merupakan salah satu lokasi wisata terfavorit di Bali. Desain minimalist, suasana yang nyaman, dan menghadap langsung ke jalan raya akan memberi nuansa tersendiri ketika Anda menikmati santap malam disana.</p>
<p>Med merupakan salah satu restaurant yang mendapat penghargaan sebagai &#8220;Restoran Terbaik&#8221; versi Indonesia Tattler, sebuah majalah yang mengkhususkan diri di bidang wisata kuliner.<br />
<span style="font-size: 11pt; font-family: Garamond"></span>Untuk informasi lebih lanjut, silakan datang langsung ke Med International Restaurant, Jalan Laksamana No. 72 Seminyak Kuta Bali. Atau hubungi 0361-731060 untuk pre-reservasi.</p>
<p>FACT SHEET</p>
<p>§ Location &amp; Operation Hours:</p>
<p>* Jalan Laksmana No. 72, Seminyak, Bali.<br />
* Ph.: +62-361-731060<br />
* Operation Hours: 5.30 pm – 12.30 pm</p>
<p>§ Food &amp; Beverages:</p>
<p>* Firewood pizza oven<br />
* A la carte Menu (pizza, pasta, burger and steak)<br />
* Set Menu (starters, main course and sweet endings)<br />
* Juices, Alcohol, Wine, Cocktail and Liqueur</p>
<p>§ Prices</p>
<p>* A la Carte Menu,<br />
* prices ranging from IDR 20,000 to 100,000 ++<br />
* Set Menu,<br />
* price ranging from IDR 65,000 to 120,000 ++<br />
* MICE IDR 70,000/pax inclusive coffee break and snack</p>
<p>§ Facilities:</p>
<p>* 2 Floor restaurant, lounge and bar<br />
* Seat capacity +/- 70 seats<br />
* Standing party +/- 160 people<br />
* AC VIP room can also be used for MICE, can accommodate maximum 15 people<br />
* Second floor for open air moonlight dinner, private party and or special events<br />
* Live Jazz every Tuesday &amp; Friday starting at 8.00 – 11.00 PM<br />
* International TV Channel with wide LCD<br />
* Restrooms for ladies &amp; gents</p>
<p>§ Parking</p>
<p>* Valet Parking available<br />
* Parking space for +/- 30 cars</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fjalan-jalan%2Flive-jazz-every-tuesday-friday-at-med-international-restaurant-seminyak.html&amp;linkname=Live%20Jazz%20%26%238211%3B%20Every%20Tuesday%20%26%23038%3B%20Friday%20at%20Med%20International%20Restaurant%20Seminyak"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/jalan-jalan/live-jazz-every-tuesday-friday-at-med-international-restaurant-seminyak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
