<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ikads.net &#187; Media</title>
	<atom:link href="http://www.ikads.net/category/media/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ikads.net</link>
	<description>life as a journey</description>
	<lastBuildDate>Sun, 14 Mar 2010 17:32:50 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dilema, Kerusakan Lingkungan Sekitar Gunung Batur</title>
		<link>http://www.ikads.net/media/lingkungan/dilema-kerusakan-lingkungan-sekitar-gunung-batur.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/media/lingkungan/dilema-kerusakan-lingkungan-sekitar-gunung-batur.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2009 18:42:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ikads.net/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[Gunung itu adalah sampah
Di belahan utaranya telah compang-camping karena lava hitamya telah kau jual.
Pohon pinus di belahan timurnya telah kau tebang dan ditanami sayur-mayur,
Belahan selatannya telah dibangun 2 ruas jalan hotmix tempat truk pengangkut batu lewat,
Belahan baratnya telah kau bikin compang untuk cari batu akik,&#8230;
Di puncaknya telah kau dirikan WC umum,
Gunung itu telah kau obral [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_252" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-252" title="Banjar Tabu" src="http://www.ikads.net/wp-content/uploads/2009/06/tabu.jpg" alt="Kondisi Galian dan tekstur tanah setelah Galian C marak di Banjar Tabu Songan" width="600" height="800" /><p class="wp-caption-text">Kondisi Galian dan tekstur tanah setelah Galian C marak di Banjar Tabu Songan</p></div>
<blockquote><p>Gunung itu adalah sampah</p>
<p>Di belahan utaranya telah compang-camping karena lava hitamya telah kau jual.</p>
<p>Pohon pinus di belahan timurnya telah kau tebang dan ditanami sayur-mayur,</p>
<p>Belahan selatannya telah dibangun 2 ruas jalan hotmix tempat truk pengangkut batu lewat,</p>
<p>Belahan baratnya telah kau bikin compang untuk cari batu akik,&#8230;</p>
<p>Di puncaknya telah kau dirikan WC umum,</p>
<p>Gunung itu telah kau obral kepada turis.</p>
<p>Begitulah hobimu dari dulu,&#8230;</p>
<p>Merusak segala yang indah&#8230;</p></blockquote>
<p><em>Kutipan di atas diambil dari </em><a href="http://www.samsarik.com" target="_blank"><em>&#8220;Samsara, Kita Semua adalah Monyet&#8221;</em></a><em>, karya Pande Putu Setiawan.</em></p>
<p>Baru baris pertama saya baca dari penggalan kutipan di atas, yang terbayang adalah kondisi daerah sekitar Gunung Batur. Memang benar kondisinya sudah seperti itu.</p>
<p>Sungguh ironis, alam yang begitu cantiknya, yang merupakan salah satu tempat terindah di Bali mengalami keadaan separah itu. Bahkan bukan hanya seperti cerita yang termuat dalam bukunya Bli Pande. Di sepanjang jalan dari Penelokan sampai mendekati Pura Batur, jejeran restoran yang berdiri di tebing kaldera Batur turut menghiasi [atau merusak pemandangan?] di sekitar kawasan Gunung Batur itu.</p>
<p>Tapi ribuan orang menggantungakn hidupnya dari kerusakan itu. Mulai dari pengusaha restoran, karyawan restoran, sopir truk, penambang pasir, petani, sampai pedagang nasi bungkus keliling ikut mengais rejeki di sana. Ketika aturan dibentuk kadangkala berbenturan dengan kebutuhan perut masyarakat.</p>
<p>Ketika aturan ditegakkan, masyarakat demo karena lahan mereka untuk mencari nafkah terancam. Kalau dibiarkan, kerusakan makin menjadi.</p>
<p>Dilema, penerapan hukum menjadi mandul. Adakah yang bisa dilakukan untuk mengurangi kerusakan itu?</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fmedia%2Flingkungan%2Fdilema-kerusakan-lingkungan-sekitar-gunung-batur.html&amp;linkname=Dilema%2C%20Kerusakan%20Lingkungan%20Sekitar%20Gunung%20Batur"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/media/lingkungan/dilema-kerusakan-lingkungan-sekitar-gunung-batur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhirnya Pinatih.org Diresmikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika</title>
		<link>http://www.ikads.net/bali/agama/akhirnya-pinatihorg-diresmikan-gubernur-bali-made-mangku-pastika.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/bali/agama/akhirnya-pinatihorg-diresmikan-gubernur-bali-made-mangku-pastika.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Oct 2008 11:55:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sekitar dua bulan bergelut dalam pengembangan dan desain website (tepatnya sebuah blog) warga www.pinatih.org.. Akhirnya pada hari yang sangat bersejarah, tanggal 26 Oktober 2008 bertepatan dengan Mahasabha Pertama Warga Arya Wang Pinatih, website ini resmi menjadi website warga dan disahkan sebagai media informasi dan komunikasi paiketan.

Berawal dari pertemuan kami bertiga, saya sendiri, Wawan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Setelah sekitar dua bulan bergelut dalam pengembangan dan desain website (tepatnya sebuah blog) warga <a href="http://www.pinatih.org/">www.pinatih.org</a>.. Akhirnya pada hari yang sangat bersejarah, tanggal 26 Oktober 2008 bertepatan dengan Mahasabha Pertama Warga Arya Wang Pinatih, website ini resmi menjadi website warga dan disahkan sebagai media informasi dan komunikasi paiketan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Berawal dari pertemuan kami bertiga, saya sendiri, Wawan dan Dewi dalam blognya Wawan, akhirnya kami bersepakat untuk kopdar di sebuah warung di Kuta. Dari sinilah akhirnya tercetus untuk membuat website. Tujuan awalnya hanya untuk berbagi informasi secara informal antar sesame warga. Dari sana, kemudian terbeli sebuah domain pinatih.com. Dalam waktu sekitar dua minggu, desain awal dan konsep website tergambar dalam pemikiran kami.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Meski hanya berbekal beberapa literature, kami memposting beberapa tulisan. Dengan berbekal kamera seadanya, kami berkeliling Bali, mengabadikan pura-pura kawitan yang disungsung oleh Warga Arya Wang Bang Pinatih. Dalam sebulan terbentuk sebuah website yang masih sangat sederhana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Meski masih sangat sederhana, dan belum lagi genap berumur sebulan, respon pengunjung website ternyata sangat bagus. Dari forum dan buku tamu yang kami sediakan, terlihat antusiasme warga untuk berbagi dan mendapatkan informasi seputar Warga Arya Wang Bang Pinatih.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Dalam beberapa minggu, website ini sampai ke tangan Panitia Mahasabha Pertama. Pada satu rapat persiapan mahasabha di Hotel Wito Denpasar, website ini pertama kali diperkenalkan kepada warga. Disinilah secara langsung, website ini direstui dan mendapat apresiasi dari panitia Mahasabha. Disini juga dengan persetujuan panitia, ditambahkan lagi satu domain, <a href="http://www.pinatih.org/">www.pinatih.org</a>, yang kemudian menjadi website resmi Warga Arya Wang Bang Pinatih.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Berbekal restu ini, semangat kami menyala, beberapa kali malam mingguan kami lewatkan bertiga, pacar kami hanya laptop, free hotspot, dan beberapa ribu harga makanan di sebuah warung di Jalan Hayam Wuruk. Sementara Mahasabha tinggal hitungan hari, kami berusaha menyelesaikan website ini sebelum Mahasabha. Dengan harapan pada saat mahasabha kami sudah bisa mendemonstrasikannya di hadapan warga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Dan hari bersejarah itu akhirnya tiba, website <a href="http://www.pinatih.org/">www.pinatih.org</a> sudah diakui dan akhirnya diresmikan oleh Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, ditandai dengan pemukulan gong sebagai tanda pembukaan Mahasabha dan sekaligus peresmian website.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Haru, bangga. Teman kami nyaris meneteskan air mata saking harunya. Akhirnya, usaha kami untuk mempersembahkan media yang semoga bisa menjadi media tercapai sudah. Meski masih jauh dari kesempurnaan, semoga website ini, sesuai harapan dari kebanyakan pengunjung, bisa menjadi media yang bisa mempererat pasemetonan warga Arya Wang Bang Pinatih dimana pun berada.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Harapan kami, Mahasabha ini bisa menjadi media pemersatu warga Arya Wang Bang Pinatih khususnya, dan masyarakat umunya. Pembentukan paiketan bukanlah usaha untuk menajadikan diri lantas merasa ekslusif atau untuk tujuan jor-joran. Atau bertujuan menggalang kekuatan politik untuk kepentingan politik tertentu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Semua berharap, dengan Mahasabha dan resminya paiketan ini, ditunjang dengan website ini, komunikasi makin terjalin. Kebersamaan makin terasa. Menegakkan swadhrama agama dan swadharma negaa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fbali%2Fagama%2Fakhirnya-pinatihorg-diresmikan-gubernur-bali-made-mangku-pastika.html&amp;linkname=Akhirnya%20Pinatih.org%20Diresmikan%20Gubernur%20Bali%20Made%20Mangku%20Pastika"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/bali/agama/akhirnya-pinatihorg-diresmikan-gubernur-bali-made-mangku-pastika.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Branding &amp; Promosi Online Wisata Bali, Mengecewakan???</title>
		<link>http://www.ikads.net/media/pariwisata/mengecewakan-branding-promosi-online-wisata-bali.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/media/pariwisata/mengecewakan-branding-promosi-online-wisata-bali.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 10:01:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Bali memang terlalu identik dengan pariwisata. Ketika iklim pariwisata menunjukan gelagat penurunan, semua gelagapan. Banyak hotel dan resotoran kolaps. Pemutusan hubungan kerja terjadi di mana-mana, bukan hanya di sektor yang bersentuhan langsung dengan pariwisata seperti hotel atau restaurant, namun juga di setiap sektor yang tidak bersentuhan langsung dengan pariwisata.
Semenjak terjadinya bom Bali I dan II, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bali memang terlalu identik dengan pariwisata. Ketika iklim pariwisata menunjukan gelagat penurunan, semua gelagapan. Banyak hotel dan resotoran kolaps. Pemutusan hubungan kerja terjadi di mana-mana, bukan hanya di sektor yang bersentuhan langsung dengan pariwisata seperti <a href="http://www.thebalihotels.net/hotel/ubud/anahata-spa-villa-resort.php" target="_blank">hotel</a> atau restaurant, namun juga di setiap sektor yang tidak bersentuhan langsung dengan pariwisata.</p>
<p style="text-align: justify;">Semenjak terjadinya bom Bali I dan II, seperti tidak ada perkembangan yang berarti dalam rangka memulihkan kepercayaan <a href="http://www.wisatabali.net" target="_blank">wisatawan</a> untuk berkunjung kembali ke Bali. Hal ini terjadi karena wisatawan sekarang jauh lebih pintar. Bahkan wisatawan jauh lebih tahu dari apa yang kita tahu. Informasi yang mereka dapatkan secara cepat dari internet, memberikan bekal kepada mereka sebelum mereka melakukan perjalanan wisata ke Bali.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya, seringkali informasi yang mereka dapatkan tidak objektif, tidak berimbang karena datangnya dari wisatawan itu sendiri. Mereka membeberkan pengalaman mereka di internet, tanpa control jurnalisme. Mereka menuliskan apa yang mereka rasakan, sehingga yang keluar adalah opini pribadi mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenapa bisa tidak berimbang? Karena memang belum ada media lokal yang mampu memberikan perimbangan informasi. Website yang bertebaran sekarang ini hanya bertujuan menjual Bali, belum ada yang memperbaiki atau mengangkat citra Bali. Celakanya, sebagian besar website yang berpengaruh dikuasai warga asing. Jadilah, mereka hanya menjual Bali, tanpa kontrol dan tanpa memikirkan imbas terhadap budaya dan lingkungan. Celakanya lagi, wisatawan lebih cenderung percaya pada sesama ekspatriat ketimbang masyarakat lokal Bali.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah pemerintah tampaknya tidak ada yang patut diharapkan. Kenapa saya berani mengatakan begitu? Saya belum pernah menemukan satu website pun milik pemerintah yang memberikan informasi yang relevan dan berimbang. Bahkan promosi secara offline pun tidak pernah terdengar. Meski sering mendengar ada konvensi, atau studi banding ke luar negeri, saya yakin hasilnya tidak maksimal. Kenapa? Terlalu birokrat dan terkesan formal. Sayangnya wisatawan bukanlah orang yang suka formal-formalan. Mereka terkesan santai, bebas, dan menikmati hidup. Jadi, buat apa studi banding yang formal ke luar negeri dengan menghabiskan anggaran?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya kalau pemerintah bijak, dan benar-benar memperhatikan pariwisata Bali, tidak harus mahal. Cukup dengan ongkos satu orang anggota dewan yang melakukan perjalanan ke luar negeri sudah bisa melakukan promosi yang cukup efektif.</p>
<p style="text-align: justify;">Tengoklah Singapura atau Malaysia. Coba buka Google terus search Malaysia tourism atau Singapore tourism. Yang muncul di halaman awal Google adalah website pariwisata mereka. Branding Singapore seperti “Uniquely Singapore” atau Malaysia dengan “Malaysia truly Asia”nya cukup terkenal di seantero dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang kita tengok brandingnya Bali. “Bali Santhi-Santhi-Santhi”. Bagaimana anda mengartikannya? Bagi kita yang ada di Bali mungkin tidak sulit mengartikan, tapi persepsi kita menjadi bias. Sekarang coba tanyakan kepada wisatawan, apa mereka mengerti dengan maskud Bali santhi. Satu persen sepertinya susah menemukan wisatawan yang mengerti makna di balik Bali Santhi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukankah branding harusnya bertujuan ke luar, bukan ke dalam. Maksud saya, branding bertujuan mengenalkan potensi Bali keluar, bukan ke dalam masyarakat Bali sendiri. Jika tujuan branding itu sendiri memang untuk menarik wisatawan asing, bukan menjadikan masyarakat Bali sebagai objek. Bukankah branding itu harusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seandainya saja semangat pemerintah Indonesia, khususnya pemerintah Provinsi Bali sama seperti semangat pemerintah Malaysia, dengan Malaysia Truly Asian-nya. Bahkan sampai menteri pariwisatanya ikut ngeblog. Bukan blog personal, tapi blog yang merepresentasikan jabatannya sebagai seorang menteri pariwisata.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika saja semangat pemerintah sama seperti semangat teamnya <a href="http://www.imfreakz.com/competition/" target="_blank">IMFREAKZ</a> yang beberapa waktu lalu memperoleh juara pertama dalam ajang bergengsi kontes SEO tingkat dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayang, semangat itu masih kendur, apalagi kurang didukung oleh pengetahuan akan dunia blogging dan internet. Banyak staff pemerintah bahkan tidak tahu, apa itu email atau website.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fmedia%2Fpariwisata%2Fmengecewakan-branding-promosi-online-wisata-bali.html&amp;linkname=Branding%20%26%23038%3B%20Promosi%20Online%20Wisata%20Bali%2C%20Mengecewakan%3F%3F%3F"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/media/pariwisata/mengecewakan-branding-promosi-online-wisata-bali.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BBC Goes to RSJ</title>
		<link>http://www.ikads.net/media/kesehatan/bbc-goes-to-rsj.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/media/kesehatan/bbc-goes-to-rsj.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2008 03:48:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-Rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.devari.org/wp-content/uploads/2008/08/download.jpeg" alt="" width="600" height="996" /></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fmedia%2Fkesehatan%2Fbbc-goes-to-rsj.html&amp;linkname=BBC%20Goes%20to%20RSJ"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/media/kesehatan/bbc-goes-to-rsj.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah Tinggi Ilmu Pembantaian (STIP)</title>
		<link>http://www.ikads.net/media/hukum/sekolah-tinggi-ilmu-pembantaian-stip.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/media/hukum/sekolah-tinggi-ilmu-pembantaian-stip.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 16:12:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Bangsat&#8230;!!!! Mau jadi apa sih para mahasiswa ini? Udah enak-enak dibiayai negara, koq malah jadi preman???
Rasanya mulut dan perut ini tidak bisa menahan kata-kata kasar itu. Datang dari kantor sambil menunggu pesanan nasi goreng di sebuah warung makan, mata tertuju pada siaran salah satu TV swasta. Dan, kembali kisah pembantaian terhadap mahasiswa sebuah Sekolah Tinggi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bangsat&#8230;!!!! Mau jadi apa sih para mahasiswa ini? Udah enak-enak dibiayai negara, koq malah jadi preman???</p>
<p>Rasanya mulut dan perut ini tidak bisa menahan kata-kata kasar itu. Datang dari kantor sambil menunggu pesanan nasi goreng di sebuah warung makan, mata tertuju pada siaran salah satu TV swasta. Dan, kembali kisah pembantaian terhadap mahasiswa sebuah Sekolah Tinggi yang notabene merupakan sekolah &#8220;pemerintah&#8221;, karena sekolah tinggi macam ini biasanya menerapkan semacam ikatan kedinasan.</p>
<p>Masih sangat segar, pembantaian terhadap Taruna IPDN beberapa waktu lalu. Banyak yang miris mendengar, di sebuah sekolah tinggi, yang diagung-agungkan ternyata tidak lebih sebagai sebuah ajang pembalasan dendam antara senior terhadap senior. Tragedi kembali terjadi. Dan kembali di sebuah sekolah tinggi negara.</p>
<p>Tindakan kekerasan telah membudaya di dalam lingkungan ini. Bukan hanya di kedua sekolah di atas, di sekolah tinggi lainnya juga tidak jauh berbeda. Ada teman yang merupakan salah satu lulusans sekolah tinggi macam ini. Kekerasan fisik bukanlah hal yang tabu di dalam lingkungan sekolah ini. Budaya balas dendam senior, yang tidak mampu dilampiaskan pada senior terdahulu menyisakan benih-benih pembalasan terhadap adik kelas atau senior-seniornya.</p>
<p>Tidak heran lantas, budaya ini justru berkembang dan tumbuh subur dalam lingkungan kampus. Tradisi sudah mendarah daging. Pembalasan hanya bisa dilakukan kepada adik kelas yang dianggap lebih lemah dan tidak akan berani memberikan perlawanan, baik fisik maupun mental. Makin menjadilah preman-preman ini menjalankan arogansinya.</p>
<p>Apa sih sebenarnya yang diharapkan dari sekolah pencetak preman semacam ini? Pantas saja, korupsi atau tindakan tidak terpuji lain masih banyak terjadi dalam tatanan birokrasi dari yang kecil sampai birokrasi pusat. Lha wong yang dicetak untuk menduduki posisi-posisi strategis di pemerintahan tak lebih dari preman-preman yang dididik oleh preman pula.</p>
<p>Wahai aktivis mahasiswa, ini juga masalah sosial, bukan hanya kenaikan harga BBM yang perlu anda perhatikan. Perhatikan imbas dari ulah preman ini 15 tahun lagi. Jika saja ada 20 ribu tamatan preman ini, bayangkan 15 tahun lagi. Bagaimana bakalan tatanan birokrasi kita. Mungkin tindak kekerasan fisik akan menjadi hal yang lumrah dalam masyarakat. Mana suaramu???</p>
<p>Sudah hampir terbukti. Di sebuah kabupaten, pernah saya dengar, seorang ajudan bupati menjadi tukang onar dan biang keributan, dia adalah tamatan sekolah tinggi negara.</p>
<p>Bubarkabn saja atau tunggu saja sampai sekolah tinggi ini berubah menjadi <strong>Sekolah Tinggi Ilmu Pembantaian</strong>, atau <strong>Institut Pembantai Negara&#8230;.</strong></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fmedia%2Fhukum%2Fsekolah-tinggi-ilmu-pembantaian-stip.html&amp;linkname=Sekolah%20Tinggi%20Ilmu%20Pembantaian%20%28STIP%29"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/media/hukum/sekolah-tinggi-ilmu-pembantaian-stip.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalpataru ditengah Rusaknya Hutan Lindung dan Alam Kintamani</title>
		<link>http://www.ikads.net/media/lingkungan/kalpataru-ditengah-rusaknya-hutan-lindung-dan-alam-kintamani.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/media/lingkungan/kalpataru-ditengah-rusaknya-hutan-lindung-dan-alam-kintamani.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 19:33:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, warga masyarakat Desa Buahan Kecamatan Kintamani, salah satu desa yang bertetangga dengan desaku mendapatkan penghargaan tertinggi di bidang pelestarian lingkungan hidup, Kalpataru. Antusiasme masyarakat Buahan nampak dari semangat mereka mengarak trofi Kalpataru sepanjang perjalanan dari Bangli menuju Desa Buahan. Kebanggaan terpancar dari wajah-wajah polos mereka. Guratan-guratan ketuaan di wajah bapak-bapak itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, warga masyarakat Desa Buahan Kecamatan Kintamani, salah satu desa yang bertetangga dengan desaku mendapatkan penghargaan tertinggi di bidang pelestarian lingkungan hidup, Kalpataru. Antusiasme masyarakat Buahan nampak dari semangat mereka mengarak trofi Kalpataru sepanjang perjalanan dari Bangli menuju Desa Buahan. Kebanggaan terpancar dari wajah-wajah polos mereka. Guratan-guratan ketuaan di wajah bapak-bapak itu laksana lenyap tatkala mereka merasakan kegembiraan dan kebanggan mengarak trofi Kalpataru itu.</p>
<p>Wajarlah jika mereka berbangga diri. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Presiden SBY kepada salah seorang perwakilan warga Buahan. Dan, prestasi itu merupakan prestasi yang jarang bisa didapatkan oleh sebuah kelompok masyarakat. Mereka dianggap mampu melestarikan hutan lindung yang berada di sekeliling desa Buahan. </p>
<p>Desa Buahan merupakan salah satu desa yang masuk ke dalam wilayah Bintang Danu Berada di antara Desa Kedisan dan Abang. Berada di sebelah selatan Danau Batur, di bawah tebing pinggiran kaldera Batur sebelah selatan. Tebing ini ditumbuhi beraneka jenis tanaman tropis yang cukup lebat. Mungkin karena mampu mempertahankan kelestarian hutan lindung di sebelah selatan dan barat desa inilah yang akhirnya mengantarkan masyarakat Desa Buahan mendapatkan penghargaan ini.</p>
<p>Jika Desa Buahan mampu membuat saya ikut merasa bangga sebagai warga Kintamani, tidak demikian halnya dengan Desa-desa lain yang juga masuk kawasan Bintang Danu. Di Batur misalnya, daerah sekitar Pura Jati yang harusnya menjadi bagian dari hutan lindung Gunung Batur kini bopeng, karena maraknya galian C dan banyaknya bangunan darurat yang dibuat masyarakat disana guna keperluan menginap hanya untuk beberapa hari ketika ada piodalan di Pura Jati.</p>
<p>Demikian pula di Songan, tidak jauh berbeda. Di Banjar Tabu, sebuah sekolah hampir nyemplung ke dasar tanah. Pinggiran sekolah sudah dikeruk habis oleh masyarakat untuk digali pasirnya. Akibatnya, sebuah sekolah menjadi korban. Toh masyarakat cuek saja. Asal masih bisa gali pasir, dan menghasilkan uang, peduli amat. Sekolah urusan pemerintah&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. Begitu sering saya dengar&#8230; Menyedihkan.</p>
<p>Di Trunyan, sama saja. Hutan di areal Gunung Abang tiap tahun terbakar. Entah kebakaran itu disengaja, atau tidak. Yang jelas kebakaran itu bukan saja menimbulkan dampak bagi kawasan Gunung Abang saja, tapi meluas sampai ke daerah-daerah sekitarnya. </p>
<p>Sebagian besar memang alam Kintamani, yang konon dulu merupakan kawasan wisata kaldera terindah di dunia sudah dikorbankan untuk keserakahan manusia. Semuanya memang atas nama materi. Ketika perut sudah menununtut isi, siapa yang akan peduli terhadap masalah yang akan timbul 50 tahun lagi?</p>
<p>Kebijakan pemerintah terkadang terasa aneh. Ketika alam sudah rusak parah, yang terjadi bukannya reboisasi atau upaya pembenahan, malah di sekitar Pura Jati, tanah hutan terkesan dibagi-bagi. Hutan yang harusnya menjadi penyangga kelestarian ekosistem kini beralih fungsi mnenjadi lahan pertanian. </p>
<p>Setiap kali pulang kampung, saya melihat semakin berkurang pohon-pohon tinggi itu, karang-karang sisa letusan itu yang dulu menjulang memberi pemandangan yang khas daerah pegunungan kini telah menjadi bagian dari tembok-tembok rumah.</p>
<p>Apakah ketika nanti saya punya anak dan saya ajak pulang ke Kintamani, akankah masih mendapatkan pemandangan yang indah itu???</p>
<p>Kalpataru, semoga bukan cuma penghargaan dan trofi cantik. Kintamani perlu perubahan. </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fmedia%2Flingkungan%2Fkalpataru-ditengah-rusaknya-hutan-lindung-dan-alam-kintamani.html&amp;linkname=Kalpataru%20ditengah%20Rusaknya%20Hutan%20Lindung%20dan%20Alam%20Kintamani"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/media/lingkungan/kalpataru-ditengah-rusaknya-hutan-lindung-dan-alam-kintamani.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Desa Adat Pengelipuran, Mempertahankan Tradisi ditengah Ambisi Globalisasi</title>
		<link>http://www.ikads.net/bali/adat/desa-adat-pengelipuran-mempertahankan-tradisi-ditengah-ambisi-globalisasi.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/bali/adat/desa-adat-pengelipuran-mempertahankan-tradisi-ditengah-ambisi-globalisasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 03:50:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[desa tradisional Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Pengelipuran]]></category>
		<category><![CDATA[traditional village]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/jalan-jalan/desa-adat-pengelipuran-mempertahankan-tradisi-ditengah-ambisi-globalisasi.html</guid>
		<description><![CDATA[Pengelipuran hanyalah sebuah desa kecil di pinggiran kota sejuk, Bangli, Bali sekitar 40 km dari kota Denpasar. Secara dinas Desa Pekraman Pengelipuran termasuk Kelurahan Kubu. Dihuni sekitar 200 kepala keluarga yang menempati sekitar 76 rumah keluarga atau satu rumah ditinggali sekitar 3 kepala keluarga. Kebanyakan dari mereka adalah petani. Meski sekarang sudah mulai ada yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengelipuran hanyalah sebuah desa kecil di pinggiran kota sejuk, Bangli, Bali sekitar 40 km dari kota Denpasar. Secara dinas Desa Pekraman Pengelipuran termasuk Kelurahan Kubu. Dihuni sekitar 200 kepala keluarga yang menempati sekitar 76 rumah keluarga atau satu rumah ditinggali sekitar 3 kepala keluarga. Kebanyakan dari mereka adalah petani. Meski sekarang sudah mulai ada yang menjadi pegawai negeri atau bekerja di sector pariwisata lainnya.</p>
<p>Pengelipuran adalah salah satu desa tradisional atau desa tua di Bali atau sering disebut Bali Aga atau Bali Mula. Merupakan salah satu tujuan wisata yang dipromosikan oleh Pemkab Bangli.</p>
<p>Tapi di desa kecil ini tradisi begitu kukuh dipegang oleh masyarakatnya. Terutama yang berkaitan dengan penataan pekarangan rumah. Di tengah gempuran arus modernisasi, keteguhan masyarakat Pengelipuran tampak dari rapinya penataan kawasan hunian masyarakat setempat. Memasuki desa pengelipuran laksana memasuki sebuah taman yang dibentuk dengan arsitektur maha sempurna. Jejeran rumah di sepanjang jalan berdiri rapi dengan pintu gerbang yang hampir seragam di setiap rumah. Rumah-rumah ini dibelah oleh sebuah jalan besar yang dipaping di bagian tengah dan ditamani rerumputan di pinggir kiri kanannya.</p>
<p><span id="more-81"></span></p>
<p>Penataan rumah dan pekarangan sangat ketat dan mengikuti ketentuan Asta Kosala-Kosali, Asta Bumi, Sikut Karang dan berbagai aturan yang tertulis maupun yang tidak tertulis lainnya. Karenanya, setiap pekarangan dan rumah di Desa Pengelipuran selalu mempunyai pola atau tatanan yang sama. Posisi paling barat ditempati oleh sebuah joli yaitu tempat tinggal utama. Dimana sebagian besar penghuni rumah tinggal disini. Juga dimanfaatkan untuk menerima tamu.</p>
<p>Masuk lebih dalam lagi akan dijumpai pewaregan atau dapur di bagian utara dan bale saka nem di sebelah selatan. Dapur memang berfungsi sebagai dapur dan tempat tinggal orang tua, dan kadang dipakai sebagai atempat mekemit (menyucikan diri, tapa brata) ketika seseoarng dari keluarga yang tinggal di pekarangan itu melakukan suatu ritual adat keagamaan. Sedangkan bale saka nem lebih banyak berfungsi untuk kegiatan manusa yadnya, yaitu ritual yang berkaitan dengan upacara terhadap manusia, seperti metatah dan tempat jenazah ketika salah seorang penghuni pekarangan itu meniggal dunia.</p>
<p>Lebih kedalam lagi dijumpai lesung di sebelah utara, berdampingan dengan lumbung di sebalah selatan. Lesung di sini ternyata diberi tempat khusus dan diberi atap. Fungsinya selain sebagai sarana untuk menumbuk padi, jagung atau bahan makanan lainnya, di sekitar lesung juga dimanfaatkan untuk mebat atau metanding ketika akan melaksanakan suatu kegiatan/ritual keagamaan. Diseberangnya berdiri lumbung yang dipakai sebagai tempat menyimpan hasil pertanian terutama gabah.</p>
<p>Paling ujunng atau paling timur adalah bangunan sanggah yang hamper berdampingan dengan kamar mandi. Mungkin kamar mandi merupakan hasil akulturi dari budaya modern. Karena sebelumnya masyarakat Pengelipuran lebih banyak memanfaatkan aliran sungai untuk kebutuhan MCK-nya.</p>
<p>Tradisi-tradisi lainnya pada umumnya sama dengan tradisi desa adat lainnya di Bali. Mulai dari perangkat desa adat dan system pemerintahan desa adat semua hampir sama dengan system pemerintahan desa adat pada umumnya. Jika di Tenganan konon wanita Desa Tenganan tidak diijinkan kawin keluar desa Tenganan, di Pengelipuran tradisi ini tidak ada.</p>
<p>Semangat masyarakat disana bukan cuma nampak dari cara mereka menata pekarangannya. Mereka juga sangat aktif mempertahankan tradisi-tradisi lainnya seperti seni tabuh. Semangat ini tampak ketika saya menyaksikan sendiri anak-anak Pengelipuran yang masih berumur 5 tahunan sampai berumur belasan tahun berlatih menabuh gamelan di bale banjar setempat. Beberapa saat saya terkagum-kagum melihat jari-jari anak-anak itu begitu lincah memainkan panggul gangsa menari di atas gangsa menghasilkan tetabuhan Bali.</p>
<p>Kekaguman saya akan tradisi Pengelipuran dan anak-anak itu membuat saya mengcopy beberapa musik gamelan Bali yang kebetulan saya dapatkan ketika saya ngenet di sebuah warnet. Namun kekaguman itu bukannya tanpa ketakutan.  Jika tidak bijak menyikapinya, lambat laun Pengelipuran akan tinggal kenangan. Berharap Pemkab Bangli dan calon Gubernur Bali bisa membuka mata terhadap masalah seperti ini. Meski kelihatannya kecil, tapi taksu Bali berada di tempat-tempat seperti Pengelipuran ini. Jika taksu Pengelipuran dan taksu tempat-tempat lainnya hilang, hilanglah taksu Bali.</p>
<p>Globaslisai adalah pilihan. Dan warisan budaya adalah juga titipan. Seberapa bijakkah kita?<br />
Pengelipuran, 3 Mei 2008</p>
<p><a href="http://Go-Vnet.Com/?id=ksuarya" target="_blank"><img src="http://plazapulsa.com/banner/plazapulsa4.gif" alt="Bisnis Pulsa Paling Mudah PlazaPulsa.com" height="60" width="468" /></a></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fbali%2Fadat%2Fdesa-adat-pengelipuran-mempertahankan-tradisi-ditengah-ambisi-globalisasi.html&amp;linkname=Desa%20Adat%20Pengelipuran%2C%20Mempertahankan%20Tradisi%20ditengah%20Ambisi%20Globalisasi"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/bali/adat/desa-adat-pengelipuran-mempertahankan-tradisi-ditengah-ambisi-globalisasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Baca Berita Dengan Tanda Baca Bintang (*)</title>
		<link>http://www.ikads.net/media/jangan-baca-berita-dengan-tanda-baca-bintang.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/media/jangan-baca-berita-dengan-tanda-baca-bintang.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 05:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Sehari-Hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/media/jangan-baca-berita-dengan-tanda-baca-bintang.html</guid>
		<description><![CDATA[
Gerakan ini didedikasikan untuk pembaca surat kabar yang telah dibodohi karena membaca tulisan pesanan. Perhatikan tiap berita yang mencoba memanipulasi pembaca dengan menyertakan tanda bintang (*) di akhir artikel.
Makin banyak media yang berani menurunkan berita pesanan (yang bisa dibeli) tanpa memberi tanda bahwa itu advetorial atau berita iklan. Bahkan, berita itu tidak biberi garis api-tanda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="snap_preview"><img src="http://lodegen.files.wordpress.com/2008/04/jangan-baca-1.jpg" alt="jangan-baca-1.jpg" align="left" /></p>
<p>Gerakan ini didedikasikan untuk pembaca surat kabar yang telah dibodohi karena membaca tulisan pesanan. Perhatikan tiap berita yang mencoba memanipulasi pembaca dengan menyertakan tanda bintang (*) di akhir artikel.</p>
<p>Makin banyak media yang berani menurunkan berita pesanan (yang bisa dibeli) tanpa memberi tanda bahwa itu advetorial atau berita iklan. Bahkan, berita itu tidak biberi garis api-tanda tegas untuk membedakan iklan dan berita.</p>
<p>Tragisnya lagi, berita tanda bintang makin merajalela, tak lagi malu-malu. Berita iklan kini di halaman depan alias headline!</p>
<p>Maka dari iru, demi manusia yang makin tengik, bumi yang makin terbakar dengan gombal dan narsis yang tak beradab, sudahilah membaca artikel tanda bintang. Kalau perlu, jangan beli korannya.</p>
<p><em>Selengkapnya di : <a href="http://lodegen.wordpress.com/2008/04/01/jangan-baca-berita-tanda-bintang/" target="_blank">http://lodegen.wordpress.com/2008/04/01/jangan-baca-berita-tanda-bintang/</a></em></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fmedia%2Fjangan-baca-berita-dengan-tanda-baca-bintang.html&amp;linkname=Jangan%20Baca%20Berita%20Dengan%20Tanda%20Baca%20Bintang%20%28%2A%29"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/media/jangan-baca-berita-dengan-tanda-baca-bintang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Didi, You Have to Take a Rest!!!</title>
		<link>http://www.ikads.net/media/kesehatan/didi-you-have-to-take-a-rest.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/media/kesehatan/didi-you-have-to-take-a-rest.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 04:26:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Sehari-Hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/kesehatan/didi-you-have-to-take-a-rest.html</guid>
		<description><![CDATA[Ya, akhirnya aku tepar. Badanku panas dingin, DEMAM! Makan gak enak, tidur tak nyenyak dari dua hari yang lalu. Bahkan melihat tuts keyboard komputer pun sempat muak dan bikin muntah. Untunglah hari ini sudah bisa bangun dan tidak muak lagi melihat komputer.
Awalnya karena saya terlalu sombong, mirip halnya dengan cerita Pan Belognya Bli Anton. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, akhirnya aku tepar. Badanku panas dingin, DEMAM! Makan gak enak, tidur tak nyenyak dari dua hari yang lalu. Bahkan melihat tuts keyboard komputer pun sempat muak dan bikin muntah. Untunglah hari ini sudah bisa bangun dan tidak muak lagi melihat komputer.</p>
<p>Awalnya karena saya terlalu sombong, mirip halnya dengan cerita Pan Belognya Bli Anton. Saya terlalu sombong untuk tidak memakai jaket di tengah malam dinginnya hawa di Pura Besakih. Padahal teman-teman dan saudara-saudara sudah menyarankan membawa jaket kalo mau mekemit disana. Tapi dasar &#8220;belog ajum&#8221;, saya mengabaikan peringatan mereka. Akhirnya pagi-pagi balik dari Besakih sudah mulai merasa badan ini meriang.</p>
<p>Dan sorenya, saya tepar&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>Dan dua hari cuma di kamar.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fmedia%2Fkesehatan%2Fdidi-you-have-to-take-a-rest.html&amp;linkname=Didi%2C%20You%20Have%20to%20Take%20a%20Rest%21%21%21"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/media/kesehatan/didi-you-have-to-take-a-rest.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tajen Sebagai Komoditas Politik</title>
		<link>http://www.ikads.net/media/politik/tajen-sebagai-komoditas-politik.html</link>
		<comments>http://www.ikads.net/media/politik/tajen-sebagai-komoditas-politik.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 09:37:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Ah, tajen yang dulu dilarang dan begitu gencarnya dibasmi. Kini menjadi komoditas politik. Memang ketika nafsu kuasa sudah merasuk, hati nurani memang bisa tergadai. Apa yang terucap kan bisa ditarik kembali. Apalagi hanya sebuah tajen
Bukannya mau sok politis atau pro dan kontra sama tajen. Tapi ini masalah sebuah konsistensi niat. Begitu besarkah pengaruh para bebotoh, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align="left" width="221" src="http://bali.ikads.com/wp-content/uploads/2008/03/tajen-in-bali.jpg" alt="tajen dan politik" height="166" style="width: 175px; height: 122px" />Ah, tajen yang dulu dilarang dan begitu gencarnya dibasmi. Kini menjadi komoditas politik. Memang ketika nafsu kuasa sudah merasuk, hati nurani memang bisa tergadai. Apa yang terucap kan bisa ditarik kembali. Apalagi hanya sebuah tajen<br />
Bukannya mau sok politis atau pro dan kontra sama tajen. Tapi ini masalah sebuah konsistensi niat. <span id="more-73"></span>Begitu besarkah pengaruh para bebotoh, sehingga tajen pun kembali diberi angin segar? Eits, jangan-jangan preman-preman yang ditangkap barusan juga dilepas lagi. Kan mau memenangkan sebuah pertarungan politik???</p>
<p>Ah, seandainya ini cuma mimpi, tentu aku tidak akan begitu memikirkannya. Semoga ini cuma mimpi&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Lagi malas nulis. Gak bisa mikir soalnya. Pendapat Anda gimana?</p>
<p>Update:</p>
<p>Tentang tajen (bebotoh) dan Pilkada Bali, tulisan yang lebih baik ada dibawah ini:</p>
<p><a href="http://winatalyka.blogspot.com/2008/03/tibalah-masa-keemasan-para-bebotoh-bali.html">Tibalah masa Keemasan Para Bebotoh</a> Bali oleh Winata</p>
<p><a href="http://www.rumahtulisan.com/selamat-datang-kemenangan-bobotoh/">Selamat Datang Kemenangan Bobotoh</a> oleh Anton Muhajir</p>
<p><a href="http://winardi.wordpress.com/2008/03/12/in-the-name-of-popularity-v2/">In the Name of Popularity v2</a> oleh Nyoman Winardi</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.ikads.net%2Fmedia%2Fpolitik%2Ftajen-sebagai-komoditas-politik.html&amp;linkname=Tajen%20Sebagai%20Komoditas%20Politik"><img src="http://www.ikads.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikads.net/media/politik/tajen-sebagai-komoditas-politik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
