Menerobos Lebatnya Hutan Bali Barat
Sebenarnya ini pengalaman yang sudah agak lama. Namun sayang untuk dilupakan, akhirnya kutuliskan juga disini. Berhubung juga lama tidak update blog…
Ini adalah perjalanan (jalan kaki maksudnya) tersulit dan terpanjang yang pernah saya lalui selama hidup. Dan mungkin tidak akan pernah bisa melakukannya lagi. Dengan 2 orang tamu dari Prancis dan satu lagi dari Thailand, kami menerobos lebatnya hutan Bali Barat. Tujuannya selain tamu saya melakukan penelitian juga sebagai hobby mereka yang suka trekking dan petualangan alam lainnya.
[SinglePic not found]
Perjalanan dimulai dari Desa Pupuan, merupakan ujung timur dari hutan Taman Nasional Bali Barat. Kami memulai perjalanan sekitar jam 6 pagi, perkiraan selesai jam 6 sore. Malam sebelumnya kami menginap di Desa Pupuan dengan menyewa penginapan di rumah warga. Berhubung warga disana sangat ramah dan bersahabat, mencari penginapan bukan menjadi hal yang sulit, meski akhirnya harus membayar Rp. 50.000 untuk 2 kamar semalam. Kami juga mencari pemandu penduduk lokal disana. Yang ini yang agak mahal. Kami menyewa 2 orang pemandu dan masing-masing minta ongkos memandu kami seharian di tengah hutan sebanyak Rp. 250.000 plus kami membelikan satu buah HP untuk keperluan di tengah hutan. Meski masing-masing sudah membawa HT dan 2 buah GPS, kadang HP masih diperlukan untuk hal-hal yang agak darurat.
Sebelum benar-benar memasuki hutan Taman Nasional Bali Barat, harus melewati perkebunan kopi dan cokelat warga Pupuan dan sekitarnya. Setelah sekitar 1 jam melewati perkebunan warga, barulah sedikit-demi sedikit memasuki kerimbunan hutan. Di pinggiran timur hutan, sedikit-sedikit terlihat pemalakan liar yang dilakukan oleh warga. Belum terlalu parah, karena warga masih menebang pohon tidak pada satu tempat, tapi berpindah-pindah dengan jarak tebang yang lumayan jauh.
[Gallery not found]
Akhirnya kami benar-benar memasuki sebuah kawasan hutan lebat yang tidak terjamah oleh tangan-tangan manusia. Di sekeliling kami hanya pohon-pohon yang sudah brewokan dengan diameter sekitar 1 meter. Bahkan untuk melewatinya, sesekali kami terpaksa merabas semak dan pepohonan kecil yang menghalangi perjalanan.
Sekitar perjalanan 3 jam melewati hutan kami menemukan sebuah pura, tempatnya cukup terpencil, tapi menurut pemandu kami, setiap tahun masyarakat disana pasti melakukan piodalan di pura itu. Jadi meski tempatnya terpencil, tapi masih sangat rapi dan terawat.
Beberapa pohon sangat unik. Diantaranya ada satu pohon ketika ditebas kulitnya, bukannya getah yang keluar, tapi lebih mirip darah, warnanya merah kental, benar-benar seperti darah. Ada lagi pohon yang getahnya bisa diminum, menurut pemandu kamuketika masyarakat sekitar tidak membawa perbekalan yang cukup ketika masuk hutan untuk berburu atau keperluan lainnya seringkali memanfaatkan getah kayu itu untuk diminum.
Keunikan lainnya, di dalam hutan tidak boleh berkata bahwa saya lapar atau saya kenyang, karena keadaan bisa berbalik 180 derajat. Misalnya kita mengatakan bahwa kita kenyang, seketika perut kita akan menjadi keroncongan. Entah ini benar atau tidak, saya cuma mengikuti saja. Takut hal ini benar-benar terjadi. Kalau sampai terjadi bisa-bisa bekal berkurang.
Selain pepohonan yang menjadi daya tarik, hewan-hewan di dalam hutan juga menjadi daya tarik yang luar biasa. Sebagian besar hewan-hewan yang kami lihat di perjalanan sudah jarang kami temukan, salah satunya jalak Bali itu. Sayangnya untuk mengabadikan foto hewan-hewan itu suatu usaha yang sulit. Jangankan untuk didekati, baru dilihat saja mereka sudah kabur entah kemana.
Kami berada di dalam hutan yang cukup lebat sekitar 5-6 jam. Setelah perjalanan 8 jam, akhirnya kami keluar dari hutan lebat. Sekarang kami berada di hutan semak belukar yang tampaknya sudah familiar bagi masyarakat. Di antara hutan-hutan semak, kadang terdapat ladang masyarakat yang ditanami jagung atau pisang.
Ketika sudah memasuki hutan bagian selatan, sudah mendekati akhir perjalanan, pembalakan liar sudah muali ramai. Suara kapak bersahutan dengan suara mesin pemotong kayu. Nampaknya masyarakat bagian selatan (sudah masuk kabupaten Negara menurut perkiraan saya) lebih ’semangat’ mencari kayu untuk keperluan bangunan atau untuk dijual.
Sebelum akhirnya kami kembali menemukan pemukiman penduduk, kami masih harus melewati hamparan kebun pisang, yang harus dilewati sekitar satu jam perjalanan. Meski sudah sangat melelahkan setelah berjalan kurang lebih 10 jam, tapi semangat kembali bangkit ketika sudah benar-benar keluar dari hutan. Sebelumnya ketakutan kami adalah kemalaman di dalam hutan atau tersesat.
Hal yang menjadi perhatian lainnya, ternyata meski dekat dengan hutan, masyarakat di ujung selatan hutan ini mengalami kesulitan air. Mereka harus mencari air ke tengah hutan dengan cara memasang pipa-pipa kecil. Mereka melakukannya secara swadaya. Entah ada bantuan pemerintah, tapi menurut mereka semuanya dilakukan secara swadaya.
Akhirnya setalah sekitar 11 jam perjalanan sampai kami sampai di mobil yang menunggu kami, di daerah sekitar Pantai Medewi masuk ke utara.
Wah pengalaman seru nih, pasti berkesan bermain-main di alam yang masih perawan.
Artana’s last blog post..Sekilas Tentang SANSPro
[Reply]
wah harusnya ke rumah dr. Deddy Andaka tuh.. dia kan blogger asal Pupuan wekekkekeke
fenny’s last blog post..Kisah tentang pacarku
[Reply]
Sayangnya waktu itu belum kenal dunia blogging…
Coba sekarang, pasti meluncur kesana..
Hehehehe
[Reply]
Seru bli. Tapi capeknya itu lho…
Kadang ngeri ketemu harimau
[Reply]
Semoga hutan Bali tetap terjaga keutuhannya.. ayo terus menggelorakan posting-posting tentang alam Bali. Seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari negeri si bau kelek
Ksatria Mbojo Ireng’s last blog post..Mas, Agent-nya siapa sih? [16]
[Reply]
Terima kasih sudah berkunjung Pak Pralangga….
Senangnya senior berkunjung ke tempat saya.
Sayang, baru bisa menulis tapi belum mampu memberikan sumbangan yang berarti bagi kelestarian alam maupun budaya Bali..
[Reply]
maal gati biaya sewa tukang guide. jeg dueg, buin nagih hape. cakcak, bli…
men banis last blog post..BBC Goes to RSJ
[Reply]
Mengapa pohon nya berupa darah getahnya yah ???
hii atut…
ianbalis last blog post..Klarifikasi Kasus Pencontekan
[Reply]
Kaden ke TNBB yang di singaraja-jembrana bagian barat
, kalo mampir ke TNBB yang dicekik, mampir bro
, deket ama rumahku
penyus last blog post..Dirgahayu NKRI yang ke 63 !!!
[Reply]
Oooh di Cekik ya bro?
Tiap tahun juga saya ke Cekik utk mendak tirta…
[Reply]
wah, suwe ora jamu di blog ini. ternyata ada tulisan yg ketinggalan utk dibaca. kapan2 kita bikin dah treking bareng ke sana. deddy andaka aja suruh jd guidenya. jd ga perlu bayar.
antons last blog post..Inilah Perayaan Kemerdekaan ala Kami
[Reply]
Wah wah .. dek didi, ini informasi bagus. Kita belum pernah kesana nih. Bali Outbound Community should go there ya hehehe. Saya kan penikmat alam.
Hendra W Saputros last blog post..Sakit Jiwa (Gila) adalah penyakit, Mereka bukanlah Sampah
[Reply]
seruuuu banget tuh, masuk utan (ada orang utannya dipohon
) kapan yach BBC adakan acara terobos utan kagak gini?
[Reply]
Ayo…
[Reply]
Ayooo…
[Reply]
Setuju. Coba dulu sudah kenal dedy andaka…
Gak perlu kontrak kamar semalam
[Reply]
Saya yang dari Pupuan malah belum pernah bertualang seperti ini. Hehe…
[Reply]