Branding & Promosi Online Wisata Bali, Mengecewakan???
Posted in Pariwisata on 19. Sep, 2008
Bali memang terlalu identik dengan pariwisata. Ketika iklim pariwisata menunjukan gelagat penurunan, semua gelagapan. Banyak hotel dan resotoran kolaps. Pemutusan hubungan kerja terjadi di mana-mana, bukan hanya di sektor yang bersentuhan langsung dengan pariwisata seperti hotel atau restaurant, namun juga di setiap sektor yang tidak bersentuhan langsung dengan pariwisata.
Semenjak terjadinya bom Bali I dan II, seperti tidak ada perkembangan yang berarti dalam rangka memulihkan kepercayaan wisatawan untuk berkunjung kembali ke Bali. Hal ini terjadi karena wisatawan sekarang jauh lebih pintar. Bahkan wisatawan jauh lebih tahu dari apa yang kita tahu. Informasi yang mereka dapatkan secara cepat dari internet, memberikan bekal kepada mereka sebelum mereka melakukan perjalanan wisata ke Bali.
Sayangnya, seringkali informasi yang mereka dapatkan tidak objektif, tidak berimbang karena datangnya dari wisatawan itu sendiri. Mereka membeberkan pengalaman mereka di internet, tanpa control jurnalisme. Mereka menuliskan apa yang mereka rasakan, sehingga yang keluar adalah opini pribadi mereka.
Kenapa bisa tidak berimbang? Karena memang belum ada media lokal yang mampu memberikan perimbangan informasi. Website yang bertebaran sekarang ini hanya bertujuan menjual Bali, belum ada yang memperbaiki atau mengangkat citra Bali. Celakanya, sebagian besar website yang berpengaruh dikuasai warga asing. Jadilah, mereka hanya menjual Bali, tanpa kontrol dan tanpa memikirkan imbas terhadap budaya dan lingkungan. Celakanya lagi, wisatawan lebih cenderung percaya pada sesama ekspatriat ketimbang masyarakat lokal Bali.
Langkah pemerintah tampaknya tidak ada yang patut diharapkan. Kenapa saya berani mengatakan begitu? Saya belum pernah menemukan satu website pun milik pemerintah yang memberikan informasi yang relevan dan berimbang. Bahkan promosi secara offline pun tidak pernah terdengar. Meski sering mendengar ada konvensi, atau studi banding ke luar negeri, saya yakin hasilnya tidak maksimal. Kenapa? Terlalu birokrat dan terkesan formal. Sayangnya wisatawan bukanlah orang yang suka formal-formalan. Mereka terkesan santai, bebas, dan menikmati hidup. Jadi, buat apa studi banding yang formal ke luar negeri dengan menghabiskan anggaran?
Sebenarnya kalau pemerintah bijak, dan benar-benar memperhatikan pariwisata Bali, tidak harus mahal. Cukup dengan ongkos satu orang anggota dewan yang melakukan perjalanan ke luar negeri sudah bisa melakukan promosi yang cukup efektif.
Tengoklah Singapura atau Malaysia. Coba buka Google terus search Malaysia tourism atau Singapore tourism. Yang muncul di halaman awal Google adalah website pariwisata mereka. Branding Singapore seperti “Uniquely Singapore” atau Malaysia dengan “Malaysia truly Asia”nya cukup terkenal di seantero dunia.
Sekarang kita tengok brandingnya Bali. “Bali Santhi-Santhi-Santhi”. Bagaimana anda mengartikannya? Bagi kita yang ada di Bali mungkin tidak sulit mengartikan, tapi persepsi kita menjadi bias. Sekarang coba tanyakan kepada wisatawan, apa mereka mengerti dengan maskud Bali santhi. Satu persen sepertinya susah menemukan wisatawan yang mengerti makna di balik Bali Santhi itu.
Bukankah branding harusnya bertujuan ke luar, bukan ke dalam. Maksud saya, branding bertujuan mengenalkan potensi Bali keluar, bukan ke dalam masyarakat Bali sendiri. Jika tujuan branding itu sendiri memang untuk menarik wisatawan asing, bukan menjadikan masyarakat Bali sebagai objek. Bukankah branding itu harusnya.
Seandainya saja semangat pemerintah Indonesia, khususnya pemerintah Provinsi Bali sama seperti semangat pemerintah Malaysia, dengan Malaysia Truly Asian-nya. Bahkan sampai menteri pariwisatanya ikut ngeblog. Bukan blog personal, tapi blog yang merepresentasikan jabatannya sebagai seorang menteri pariwisata.
Jika saja semangat pemerintah sama seperti semangat teamnya IMFREAKZ yang beberapa waktu lalu memperoleh juara pertama dalam ajang bergengsi kontes SEO tingkat dunia.
Sayang, semangat itu masih kendur, apalagi kurang didukung oleh pengetahuan akan dunia blogging dan internet. Banyak staff pemerintah bahkan tidak tahu, apa itu email atau website.


















jeg semenjak Jro Wacik dadi menteri sing ada promosi buat Bali… Visit Indonesia Year 2008 gak ada gaungnya kaya jaman Jop Ave, Visit Indonesia Year gaungnya terasa banget… Singapore dan Malaysia sudah jauh di depan…
Reply
saya sangat setuju bli, branding harusnya keluar dan menonjol, bukanya kedalam yang ngerti cuman tetangga sebelah yang bening-bening ..benul bukan ?? * nyakcak artikel ne, manstab !!
Reply
absolutely right sajan. saya punya cerita ketika brand shanti itu di launch. saya sudah sangat skeptis. Saya bilang ke tim makernya (timnya serius dan besar lo– dari jkt? saya lupa) ini klise dan tidak menjual. DIa bilang, semua pejabat di bali exited lo ma brand baru ini.
Ditayangkanlah video wawancara tokoh behind the scene pembuatan brand ini. semuanya tokoh pejabat, ndak ada anak muda atau punker bali yang kreatif and other creative people yang njubilah buanyak banget lo di bali. pantesan, ga ada yang ngasi masukan di luar mainstream.
ya iya lah, wong pejabatnya ndak pernah lihat brand negara lain, trus semuanya sok ajeg bali yang mikir kalo yang kuno-kuno atau culture itu adi luhung.
hey guys, kita mau jualan nih. bikin dong jualan yang enak dan bikin nafsu lagi untuk makan lagi.
ya, begitulah. nah, terbukti skarang. it didnt work. kita bisa bikin sesuatu yang klasik atau sakral jadi produk lo bukan hanya meletakkan begitu saja di menara gading. huh… gemessss
luhdes last blog post..Pilih Blog atau Orangnya?
Reply
Typically complicated bureaucracy. And this is the result…
Does it sells????
Reply
kalo tujuan branding ke dalam ya sama saja dengan “menggarami lautan”
Thanks bli
Reply
Sepertinya promosi Denpasar sightseeing lebih terkesan digarap serius, meski cuma milik Pemda. Sedang, visit Indonesia ato Bali Shanti, sepertinya gak ada gaungnya bli.
Dari awal sebenarnya sudah skeptis, liat aja website yang konon dibuat seharga miliaran, apa sih yang didapat disana?
Check my-indonesia.info.
Official government site (kadang di beberapa page ada Adsense loh!!!)
Reply
pemerintah memang terkesan adem ayem dalam mengurusi promosi seperti ini, padahal promosi kan senjata utama dalam menarik wisatawan untuk datang ke Indonesia. kalo tidak ada promosi memangnya wisatawan bakal tahu apa aja yang ada di Indonesia. letak kesalahan harus dicari dan dibenahi.
Reply
Sangat menarik artikel ne bli. Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan anak seorang owner hotel berbintang di kuta, dia bilang bagaimana mau mengena promosi pariwisatanya, wong yang diajak ke LN adalah pejabat-pejabat dan anggota DPR yang kurang memahami (tidak terjun langsung) dalam bisnis pariwisata di Bali seharusnya yang berangkat adalah pengusaha pariwisata dengan departemen bidang terkait, terus dulu banyak proyek dengan dana miliaran pembuatan website tersentral tentang pariwisata Bali yang sekarang sudah tidak terdengar lagi, dananya sudah dipakai tapi hasil dan pertanggungjawabannya tidak ada.
Selain itu pegawai di dept.pariwisata seharusnya selain berpendidikan dalam bidang pariwisata juga harus menguasai dunia internet bukannya kerja mereka hanya kongkow-kongkow depan kantor sambil ngerujak dan tawar dagang kain dengan jam istirahat sampai jam 3 (pengalaman saya pribadi sewaktu datang ke kantor pariwisata bali)
D2s last blog post..RUU ESEK ESEK….
Reply
sepakat banget. indonesia blm menggarap secara serius promosi online ini. kalah jauh dibanding blogger, yg pada umumnya hanya utk fun.
karena itu, mari kita dukung dek didi sbg menbudpar.
Reply
oya, selamat utk desain barunya. lbh ciamik. tp warnanya adem bgt. lebih meriah yg sebelumnya.
Reply
speechless bli….
Reply
Om Anton tolong sebarin poster saya yah, segera…
Terus carikan juga dukungan tanda tangan,
huahahahahaha….
Reply
Suksma boss
Reply
No comment be dek, kan jeg mule amonto gen. bedik ne megarap serius (kalau gak mau dibilang gak ada)
Yuk, kita aja, blogger bali yang gabung promosiin bali.
DStudioBalis last blog post..Saya Terharu
Reply
Ide bagus pak dewa. Kapan bisa terwujud yah?
Reply