Akhirnya aku Menjadi Pengangguran

Siang tadi saya resmi mengundurkan diri dari tempatku bekerja selama ini. Meski mulut terasa rapat untuk mengucapkan selamat tinggal buat rekan-rekan kerja sekantor, kaki terasa berat untuk meninggalkan kantor yang selama ini sudah berjasa membuat perutku bisa terisi nasi, tapi niat sudah bulat untuk mencoba menjadi pengangguran.

Sepertinya tidak perlu diceritakan, kenapa saya lebih memilih mengundurkan diri dari kantor tempat bekerja. Hanya tidak ingin timbul persepsi macam-macam di antara rekan sekantor.

Menjalani hidup sebagai pengangguran (tepatnya tanpa pekerjaan tetap, tepatnya tanpa menjadi karyawan atau PNS) kadang menjadi beban. Jika saja orang tua saya di kampung tahu bahwa saya sudah pensiun muda (cieh istilah apa lagi ini), mungkin mereka akan mencak-mencak. Dianggap tidak serius bekerja, tidak fokus pada karir, dan sejuta alasan memojokkanku. Masyarakat kita umumnya masih terpaku pada pekerjaan yang memberikan jaminan pasti, ada gaji bulanan pasti, artinya paling tidak dapur tetap ngebul selama menjadi karyawan.

Manusia selalu ingin mendapatkan pengakuan, meski gaji kecil tapi menjadi seorang PNS misalnya, akan menjadi lebih dihargai ketimbang orang yang tinggal di rumah tetapi menghasilkan berkali-kali gaji seorang karyawan atau PNS. Pekerjaan erat kaitannya dengan status sosial. Orang yang bekerja di suatu perusahaan dianggap ulet dan rajin. Status sosial juga dianggap lebih tinggi. Mempunyai kantor, atau bekerja di kantor dianggap lebih baik daripada bekerja di rumah dengan memakai celana kolor. Sepintas memang kelihatannya kerja dirumah merupakan pekerjaan seorang pemalas. Benarkah.?? Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Saya ingin memberi sebuah realita, yang saya sendiri mengalaminya. Saya saat ini bekerja menjadi konsultan pada sebuah perusahaan export, saya tidak harus datang ke kantor saya setiap hari, cukup datang 2 minggu sekali. Atau bila sangat urgent kadang seminggu sekali. Itu pun bisa saya yang atur, kapan ketemuan, jam berapa dan dimana. Meski gaji saya lebih rendah dari gaji semula, tapi saya menemukan satu hal yang jauh lebih memuaskan hidup saya dari sekedar uang. Ketika saya dulu masih bekerja 5 kali seminggu, dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore, saya tidak pernah tahu bagaimana kondisi Renon pada sore hari. Nah sekarang saya tahu. Saya bisa berbaur dengan rekan2 untuk main bola. Saya bisa menghabiskan waktu sepenuh hari di kost2an. Ketika dulu, saya mau ketemu klien, saya mencari berbagai cara untuk bisa keluar kantor, sekarang saya tidak perlu itu lagi. Saya punya banyak waktu untuk menemui klien saya, untuk berkonsultasi dengan mereka, memberikan support ketika saya dibutuhkan.

Mustahil saya bisa seperti itu ketika saya bekerja penuh waktu di kantor. Sekarang saya baru bangun pagi, kadang bangun siang, belumĀ  cuci muka langsung hidupin laptop, memeriksa beberapa email, siapa tau ada yang nyangkut dan akhirnya menjadi klien. Meski di rumah pikiran saya terus mencoba mencari berbagai alternatif memecahkan masalah yang dihadapi klien. Tapi ada asyiknya juga. Bayangkan jika ketika di atas motor sambil menghayal mencari solusi terhadap satu masalah yang sedang kita hadapi… Bayangkan apa yang bisa terjadi.

Dengan berbekal sebuah laptop butut, dan koneksi internet yang tidak lagi kencang, kini saya mencoba menjadi pengangguran. Mampukah saya bertahan hidup?

Hari Sabtu jam 4 pagi. Sudahkah Anda berpikir untuk pensiun hari ini? Mari berpikir pensiun muda…

  • Share/Bookmark

14 Responses to “Akhirnya aku Menjadi Pengangguran”

  1. a! says:

    selamat datang di kebebasan. kini hidup ada dalam genggamanmu. percayalah, ini seperti berlayar tanpa tepian. akan terus datang gelombang yang menghantam perahumu. tapi ini sangat menyenangkan. kita ada di lautan lepas, bukan di penjara..

    Reply

    Didi Reply:

    @a!,
    Bisa gradag-grudug sama om anton sekarang…
    selamat datang kebebasan

    Reply

  2. Selamat datang di dunia ‘pengangguran’. Tidak mudah untuk menjadi seorang ‘pengangguran’. Akan terbuka kesibukan menjadi seorang ‘pengangguran’. Jangan lupa siapkan satu file txt dalam laptopmu, taruh di dekstop untuk menampung semua agenda dari seorang ‘pengangguran’. Keyword nya adalah ‘pengangguran’ yang sebenarnya adalah menyisihkan waktu untuk ‘menganggur’.

    Reply

    Didi Reply:

    @Hendra W Saputro,
    Hidup pengangguran…

    Reply

  3. wira says:

    Gpp pengangguran, yang penting banyak uang, bukankah uang adalah raja?
    :D LOL

    Reply

  4. ick says:

    “Bayangkan jika ketika di atas motor sambil menghayal mencari solusi terhadap satu masalah yang sedang kita hadapi… Bayangkan apa yang bisa terjadi.”

    *melahang bli…nyanan tabrakan :lol:

    Reply

  5. pande baik says:

    Keputusan terbaik ada ditangan sendiri. Terserah orang mau bilang apa, toh kita sendiri yang menjalani. Yang penting sudah siap dengan alternatif pilihan yang lain.

    Reply

  6. artana says:

    Sebagai konsultan itu bukan pengangguran bli, malah kalau diperhatikan seorang konsultan itu adalah “raja” yang bisa nyuruh2 orang untuk ngikutin saran kita..he..he…

    Reply

  7. Made Sariada says:

    Selamat Bli Didi..

    Saya sudah setahun yang lalu…Semoga sukses selalu menjadi “pengangguran”…

    Reply

  8. aryotejo says:

    Pensiun, Resign, dipecat resiko menjadi seorang karyawan,tinggal nunggu sekarang,nanti tapi itu pasti.yang penting bisa enjoy dan bisa melihat sore hari di rumah dan uang cukup nggak perlu berlebihan,kalo kurang setiap orang pasti kurang

    Reply

Trackbacks/Pingbacks

  1. [...] pertama memutuskan untuk menjadi pengangguran, sebenarnya sudah mempersiapkan mental untuk meninggalkan kemapanan. Mapan yang dimaksud adalah [...]

  2. [...] pertama memutuskan untuk menjadi pengangguran, sebenarnya sudah mempersiapkan mental untuk meninggalkan kemapanan. Mapan yang dimaksud adalah [...]


Leave a Reply

CommentLuv Enabled

?>